BATSYEBAGATE
Wednesday, May 05, 2004 (10:00:37)

Posted by SALIB

Nuryatigate
Kota kecil, Gresik, Jawa Timur, beberapa waktu yang lalu dihebohkan dengan pengguguruan kandungan oleh seorang wanita bernama Nuryati, hasil hubungan gelapnya dengan seorang pria yang sudah beristri. Ayahnya ikut terlibat, karena dia yang menguburkan orok itu. Dan seorang mantri yang memberikan resep obat untuk pengguguran itu jelas dinyatakan terlibat juga. Orang-orang desa menyebutkan peristiwa itu dengan "hal yang memalukan", keluarga korban menyebutnya dengan "bencana", polisi menyebutnya dengan "kriminalitas", tetapi saya paling suka dengan istilah kaum politikus yang menyebutnya dengan "Nuryatigate"!
Apapun istilah yang diberikan, kisah ini merupakan bagian dari peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidup manusia.

Bumi yang kita tinggali ini ternyata menyimpan berbagai skandal yang memalukan. Selama ini kita hanya mendapatkan informasi dari berbagai media mengenai skandal-skandal yang menghebohkan dan melibatkan orang-orang besar. Katakan saja skandal yang kita kenal dengan "Buloggate" ? skandal "made in" dalam negeri - yang sampai saat ini masih dalam proses persidangan yang sebagian orang anggap merupakan bagian dari sinetron yang pasti ada sutradaranya. Atau skandal lainnya yang terjadi di luar negeri adalah "Watergate" yang melibatkan presiden Richard Nixon; skandal "Irangate" ? melibatkan presiden Ronald Reagan; dan yang lumayan baru terjadi adalah skandal "Monicagate" ? yang melibatkan presiden Bill Clinton. Kalau mau ditelusuri sampai ke pelosok-pelosok, masih akan banyak ditemukan skandal-skandal lainnya.

Raja yang Hebat
Mari kita lihat di kisah di Alkitab tentang seorang raja yang dikenal dengan kehebatannya. Dia adalah Daud. Alkitab menyebutnya dengan "seorang yang berkenan di hati-Nya" (1 Sam. 13:14; Kis. 13:22). Kumpulan pujiannya dibukukan dan menjadi salah satu kitab yang menghiasi Alkitab kita ? kitab Mazmur. Dan keturunannya akan melahirkan Mesias secara daging. Dia memang seorang raja yang nyaris sempurna. Sayang, hidupnya tidak lepas dari sebuah skandal yang amat memalukan.
Semuanya dimulai secara kebetulan, dan fatalnya Daud tidak segera mengantisipasinya. Ia boleh dikatakan mahir dalam mengatur peperangan dan itu diakui. Ia juga seorang yang bijak dalam memimpin negaranya. Tetapi menghadapi "penglihatan" yang tidak disengajanya itu, ia terjerembab dalam kasus besar.
Hari itu Daud sedang santai. Sebagai seorang raja yang sedang berada dalam puncak keemasan, waktu santai pasti akan banyak dimiliki. Tetapi tidak seharusnya bagi seorang raja untuk santai di rumah, sedangkan para perwira dan pasukan terlibat dalam peperangan, seperti Alkitab katakan, "Pada pergantian tahun, pada waktu raja-raja biasanya MAJU BERPERANG, maka Daud menyuruh Yoab maju beserta orang-orangnya dan seluruh orang Israel. Mereka memusnahkan bani Amon dan mengepung kota Raba, sedang DAUD SENDIRI TINGGAL DI YERUSALEM" (2 Sam. 11:1).
Setidak-tidaknya ada dua alasan mengapa ketidaksertaan Daud dalam peperangan adalah kesalahan:
Pertama, memimpin perang adalah salah satu tugas seorang raja. Alkitab berkata, "Tetapi bangsa itu [bangsa Israel] menolak mendengarkan perkataan Samuel dan mereka berkata: "Tidak, harus ada raja atas kami; maka kamipun akan sama seperti segala bangsa-bangsa lain; raja kami akan menghakimi kami dan MEMIMPIN KAMI DALAM PERANG" (1 Sam. 8:19-20).
Sebenarnya meminta seorang raja adalah kesalahan bagi bangsa Israel, sebab Allah sudah memberikan hakim sebagai pemimpin untuk melepaskan mereka dari perbudakan. Lagipula Allah sudah menetapkan diri-Nya sebagai raja atas Israel saat Ia memimpin mereka keluar dari Mesir menuju tanah Kanaan. Melalui pujian bangsa Israel setelah mereka melewati laut Teberau tercuplik kalimat seperti ini, "Ngeri dan takut menimpa mereka, karena kebesaran tangan-Mu mereka kaku seperti batu, sampai umat-Mu menyeberang, ya TUHAN, sampai umat yang Kauperoleh menyeberang. Engkau membawa mereka dan Kaucangkokkan mereka di atas gunung milik-Mu sendiri; di tempat yang telah Kaubuat kediaman-Mu, ya TUHAN; di tempat kudus, yang didirikan tangan-Mu, ya TUHAN. TUHAN MEMERINTAH KEKAL SELAMA-LAMANYA" (Kel. 15:16-18).
Tuhan sebagai Raja! Bukan hanya itu saja, Allah sebenarnya sudah mempersiapkan seorang raja dari keturunan Yehuda, seperti yang terucap melalui nubuatan Yakub (Kej. 49:8:12). Tetapi bangsa Israel menghendaki raja. Mereka tidak mau lagi dipimpin oleh seorang hakim, meskipun sejarah membuktikan bahwa hakim-hakim seperti Gideon dan Barak berhasil menghalau musuh-musuh Israel. Akhirnya Allah menetapkan Saul sebagai raja pertama. Tetapi "aturan" raja sebagai pemimpin perang tidak dilakukan dengan baik oleh Saul. Sebaliknya yang menonjol selama pemerintahan Saul adalah Daud. Lihat saja keberaniannya menaklukkan musuh yang amat ditakuti orang Israel, Goliat. Dan tercatat berkali-kali Daud berhasil memimpin pasukannya meraih kemenangan demi kemenangan di medan peperangan, sampai-sampai terdengar nyanyian seperti ini, "..... Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa" (1 Sam. 18:7).
Kedua, Daud adalah prototipe Mesias yang dijanjikan. Apabila Dia datang, maka Dia akan membawa kelepasan bagi umat-Nya. Dia akan menaklukkan musuh-musuh-Nya dan mendirikan takhta-Nya. Bagaimana mungkin Daud yang mewakili Mesias tenang-tenang saja di istananya dan menolak terlibat dalam memerangi musuh-musuh umat Allah?
Tetapi mengapa saat itu Daud santai di istananya? Mengapa ia tidak terjun memimpin peperangan? Sebelum kita melihat alasan-alasannya, saya mau ajak Anda melihat bagian gelap dari kelalaian Daud itu.
Dari salah satu loteng di istana itu secara tidak sengaja ia melihat wanita mandi. Kalau wanita itu seorang nenek tua yang gigi-giginya sudah habis, Daud tidak akan menggubrisnya. Tetapi yang dilihatnya saat itu adalah "pemandangan luar biasa" nan langka - seorang wanita muda cantik yang sedang mandi. Kalau memang wanita itu biasa mandi di sana, mungkin baru kali itu Daud berada dalam posisi yang tepat. Daud tidak menganggapnya sebagai suatu kesalahan (toh tidak ada orang yang tahu), justru sebaliknya ia seperti mendapatkan durian jatuh. Apakah tidak ada wanita cantik lain yang dilihatnya di seantero Israel? Banyak! Tetapi tidak ada yang sebegitu menarik hatinya selain wanita itu. Seharusnya Daud berkata sambil menundukkan kepalanya, "Oh ampunilah hambamu ini ya Allah yang secara tidak sengaja melihat wanita mandi dengan penuh gairah." Daud tidak berkata seperti itu. Ia menikmati pemandangan tersebut, sampai hatinya benar-benar terpikat.

Salahkah Batsyeba?
Sebelum itu marilah kita pahami mengapa Batsyeba mandi di tempat terbuka sehingga dapat "dibidik" oleh Daud, meskipun Alkitab tidak secara eksplisit menyebutkan bahwa Batsyeba telanjang bulat. Apakah Batsyeba sengaja melakukannya sebagai upaya untuk menjebak Daud? Ataukah Batsyeba sedang melakukan sebuah rencana dalam konspirasi politik dengan lawan-lawan politik Daud? Saya yakin Batsyeba tidak serendah itu. Ia adalah wanita terhormat, istri dari seorang perwira yang disegani, dan ia juga anak Eliam (2 Sam. 11:3) yang berarti dia adalah cucu Ahitofel, seorang penasihat yang berkuasa bagi Raja Daud (2 Sam. 16:23; 23:34). Kalau memang demikian, sebagai seorang wanita yang terhormat keluarganya pasti memiliki sumur atau sumber air pribadi di mana dia biasa membasuh dirinya. Tempat itu amat pribadi dan tidak bisa didatangi oleh sembarangan orang, kecuali keluarganya yang hendak mandi. Tetapi jangan Anda bayangkan bahwa tempat mandinya terbuat dari beton dengan atap genting yang kokoh. Itu mungkin kamar mandi Anda! Zaman itu kamar mandinya masih terbuka sebagian, terutama bagian atas. Karena itu tidak heran bila Daud sampai dapat melihatnya dari atas sotoh istananya. Dan Batsyeba sama pasti sekali tidak menyadari bahwa Daud mengintipnya dari ketinggian!
Daud lalu menyalahgunakan kekuasaannya (betapa banyaknya orang juga menyalahgunakan kekuasaan untuk meraih keuntungan pribadi). Ia memerintahkan pengawalnya untuk memanggil wanita itu. Mana ada orang yang berani menolak titah raja? Tidak terkecuali Batsyeba. Ia menghadap Daud, dan selanjutnya kita tahu kisahnya bagaimana akhirnya Daud jatuh dalam perzinahan dan pembunuhan terhadap Uria, suami Batsyeba.
Melalui Nabi Natan, Allah menyampaikan berita hukumannya. Mengapa hanya Daud? Mengapa Alkitab tidak mencatat Batsyeba atau Uria sebagai orang yang bersalah juga? Sebab ketika Adam dan Hawa berdosa, mereka berdua bersama ular itu mendapatkan kutukan. Dalam kasus Batsyebagate ini Alkitab tidak mencatat penghukuman baginya. Apakah Alkitab memang lebih memfokuskan pada Daud? Saya pikir tidak. Kita akan menelaahnya lebih lanjut.
Mari kita pahami sejenak mengenai perbedaan hukum zaman dahulu dengan sekarang. Menurut hukum sekarang, bila seorang wanita berkata "tidak", maka akan disebut perkosaan bila sampai terjadi hubungan seks, sekalipun itu suaminya sendiri. Tetapi zaman itu tidak demikian. Anda ingat Lot yang bermaksud memberikan dua anak gadisnya kepada orang-orang laki Sodom untuk ditiduri supaya tamunya terhindar dari amarah mereka (Kej. 19:7, 8)? Tidak ada penolakan dari gadis-gadis itu meskipun orang-orang laki Sodom lebih berhasrat menemukan para tamu Lot. Begitu juga dengan Mikhal yang diberikan kepada Daud oleh Saul untuk menjadi istrinya. Selang beberapa lama kemudian Saul mengambilnya kembali dan diberikan kepada orang lain, namun Daud mengambilnya kembali (1 Sam. 25:44; 2 Sam. 3:13-16). Dan sepertinya Mikhal "pasrah" saja dengan proses seperti itu.
Untuk lebih jelasnya lagi marilah kita kembali ke kitab Ester. Saat itu Raja Ahasyweros memberikan titah agar Ratu Wasti memperlihatkan kecantikannya di hadapan para undangan (mungkin dengan cara yang tidak sepantasnya), dan ratu itu menolak. Karena sikap yang menentang titah raja, akhirnya Ratu Wasti dilengser dari jabatannya, meskipun tidak dihukum mati. Kemudian Ester diangkat jadi ratu. Pada suatu peristiwa, demi membela sebangsanya, ia harus menghadap raja. Dan peraturannya jelas, siapa saja yang datang kepada raja sebelum dipanggil itu berarti hukuman mati, kecuali Raja Ahasyweros mengulurkan tongkat emasnya (Est. 4:10-11). Bukankah ini menggambarkan keadaan raja-raja saat itu? Bukankah ini menjelaskan mengapa Batsyeba harus menghadap karena titah raja? Setidak-tidaknya inilah yang menjadi alasan mengapa ia harus mengikuti kemauan raja, bahkan tidur bersama sekalipun.

Tiga Kesalahan Daud
Tidak seharusnya skandal Batsyebagate itu terjadi. Kalau saja Daud pergi berperang dan bergabung dengan tentaranya, peristiwa itu tidak perlu terjadi. Kita akan melihat 3 alasan mengapa Daud tinggal di Yerusalem dan santai di istananya yang dapat menjadi pelajaran bagi kita juga.
Pertama, Daud terlalu arogan. Selama ini Allah menyertai Daud. Selama ini semua musuh berhasil dikalahkan. Selama ini Daud melihat keperkasaan Allahnya. Apa dan siapa lagi yang perlu ia takuti? Karena itu nama Daud begitu disegani oleh kawan dan ditakuti oleh lawan. Jadi ia berpikiran tidak perlu lagi terlibat langsung dalam peperangan, sebab ia yakin tanpa dia pasukannya masih hebat. Dengan kata lain Daud mulai melonggarkan kepercayaannya kepada Allah. Sebenarnya adalah kebiasaannya sejak muda untuk selalu bertanya kepada Tuhan sebelum berperang (1 Sam. 23:4), tetapi lama-kelamaan kebiasaan itu hilang. Kini yang ada adalah kesombongan. Hal ini sepertinya konsisten dengan kesalahan Daud yang dilakukannya lagi saat ia menyuruh Yoab melakukan penghitungan rakyat Israel, termasuk pasukannya. Daud lebih percaya kepada jumlah pasukannya daripada kepada Allah.
Kalau Anda mengira bahwa rohani Anda selalu di atas, Anda berada dalam posisi yang berbahaya. Ingat, kejatuhan Daud terjadi ketika kerajaannya berada dalam puncak keemasan. Dengan kata lain Daud sedang menikmati masa-masa puncaknya. Tetapi ia jatuh! Paulus berkata, "Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh" (1 Kor. 10:12)!
Kesombongan mendahului kejatuhan. Berapa kali Alkitab maupun sejarah dunia membeberkan fakta bahwa orang-orang sombong tidak akan bertahan lama. Dan tanpa sadar juga sebenarnya kita berlaku arogan. Orang sombong biasanya berkata seperti ini, "Ah, aku tidak perlu berdoa. Toh tanpa doa pun semuanya baik-baik saja, bahkan semakin baik." Anda mulai mengandalkan kekuatan Anda. Anda mengandalkan uang Anda yang melimpah. Anda percaya kepada kekuatan posisi Anda. Anda tidak membutuhkan Allah. Atau kalau membutuhkan, itu dalam waktu-waktu tertentu saja. Waspadalah, sebab Anda dapat jatuh dalam sebuah skandal!
Kedua, kemungkinan besar saat itu Daud dalam kejenuhan. Saat itu ia sedang dalam peperangan panjang dengan bani Amon. Ini bukan perang biasa. Dibutuhkan waktu yang cukup panjang agar bani Amon menyerah. Jadi pengepungan kota Raba merupakan upaya untuk menekan bani Amon, di samping membuat bani Amon kelaparan karena habisnya persediaan makanan. Jadi selama pengepungan itu tidak ada aktivitas yang berarti kecuali menunggu (termasuk Daud) di dalam tenda sambil berjaga-jaga. Ini bukanlah piknik. Dan lama-kelamaan Daud merasa jenuh dan bosan, lalu ia memutuskan untuk hari itu tinggal di istana.
Saya tahu Anda kadang merasa kejenuhan yang hampir membuat leher Anda tercekik. Rutinitas yang membosankan tanpa adanya kemajuan membuat Anda frustasi. Karena itu Anda mulai bertingkah aneh. Anda mulai berlaku seperti Daud yang berjalan-jalan di atas sotoh istana sambil celingukan ke sana kemari sampai ia menemukan "pengalaman baru." Dan tidak sedikit di antara Anda yang akhirnya memang benar-benar menemukan pengalaman itu. Sayang, pengalaman baru Anda adalah petualangan di dalam dosa. Dan memang Anda puas, tetapi kepuasan di dalam daging.
Saudara, kepuasan kita ada di dalam Allah. Diperlukan kiat yang bijak supaya Anda mendapatkan varias-variasi untuk menjauhkan Anda dari kejenuhan. Buatlah aktivitas yang membangun iman Anda. Cobalah mengikuti kegiatan-kegiatan di gereja atau persekutuan Anda. Karena itu perlu gereja mengadakan semacam retreat supaya jemaat mendapatkan kesegaran kembali, secara roh dan emosi.
Ketiga, kemungkinan besar juga Daud mulai "melunak." Daud adalah seorang lapangan. Ia terbiasa hidup keras dalam alam bebas. Ia bukan anak mama yang biasa merengek. Sejak remaja ia biasa menggembalakan ternak di padang yang penuh dengan binatang buas. Sebelum tinggal di istana pun Daud terbiasa merasakan kerasnya alas tidur (sebab ia tidur di atas bebatuan). Ia terbiasa juga makan makanan seadanya atau kalau perlu menahan rasa lapar demi kemenangan pasukannya. Kalau tiba-tiba ia diangkat menjadi raja dan tinggal di istana yang megah, siapa yang tidak kaget? Nalurinya sebagai seorang pejuang mulai memudar. Daud mulai merasakan kenikmatan-kenikmatan yang justru membuat Daud terbuai. Oke, boleh-boleh saja Daud menikmati kerja kerasnya, tetapi ia tidak menjaga nalurinya sebagai prajurit Allah. Daud tidak peduli itu asalkan istananya masih menyajikan kenikmatan kepadanya. Kalau begitu untuk apa ia harus berlama-lama tinggal di tenda untuk mengepung kota Raba?
Sebelum Anda sukses seperti sekarang ini, Anda dahulu seorang pendoa yang gigih. Semakin berat persoalan menekan, semakin keras juga doa Anda. Dahulu Anda adalah seorang prajurit Allah. Tetapi setelah Anda pindah ke "istana", naluri Anda sebagai pahlawan Allah mulai tumpul. Anda terbuai dalam kesuksesan. Anda tidak perlu lagi berdoa. Anda tidak perlu lagi datang ke gereja. Anda tidak perlu lagi membaca Alkitab. Setiap persoalan sepertinya dapat diatasi dengan kekuatan Anda, sampai suatu hari Anda menyadari bahwa Anda sudah terjebak dalam sebuah skandal.

Kasih Karunia Allah
Setiap orang pasti marah kepada Daud dan bersimpati terhadap Uria, suami Batsyeba. Daud patut dijatuhi hukuman mati! Itulah teriakan semua orang yang membela keadilan. Kejahatannya patut dibayar! Sebelum Anda protes, Allah sudah marah terlebih dahulu. Melalui Nabi Natan, Allah menyampaikan 4 hukuman. Pertama, "pedang tidak akan menyingkir dari keturunan Daud" (2 Sam. 12:10). Anak-anak daud: Amnon, Absalom, dan Adonia terbunuh dalam berbagai tragedi. Amnon dibunuh oleh saudaranya sendiri. Absalom dibunuh oleh Yoab, yang membuat Daud amat berduka. Sebenarnya Daud berharap bahwa anaknya ini akan menggantikan kedudukannya, tetapi ia malah memberontak terhadap ayahnya. Adonia menyusul tak lama kemudian. Tepatlah bila pedang tidak pernah menyingkir dari keturunan Daud.
Penghakiman kedua ada pada ayat 11, "..... Bahwasanya malapetaka akan Kutimpakan ke atasmu yang datang dari kaum keluargamu sendiri...." Jika Anda menelusuri keluarga dan keturunan Daud, maka Anda akan melihat konflik berdarah antar keluarga. Ini adalah kisah tentang kebencian, incest, keserakahan, dan pembunuhan.
Penghakiman ketiga juga terdapat pada ayat 11, "...... Aku akan mengambil isteri-isterimu di depan matamu dan memberikannya kepada orang lain; orang itu akan tidur dengan isteri-isterimu di siang hari." Itu digenapi saat Absalom memberontak terhadap ayahnya. Ia berhasil memaksa ayahnya mengungsi dan membawa sepuluh dari istri ayahnya ke dalam rumahnya sendiri dan berbuat jahat terhadap mereka di hadapan rakyat Israel.
Penghakiman terakhir terdapat pada ayat 14, "..... pastilah anak yang lahir bagimu itu akan mati." Itu terjadi ketika anak yang terlahir dari hasil hubungan gelap itu mati sesaat setelah ia dilahirkan.
Mengapa Daud sendiri tidak dihukum mati? Anda tidak dapat menggugat kasih karunia yang Allah limpahkan kepada Daud. Satu hal yang perlu Anda camkan adalah respons Daud setelah penghukuman itu disampaikan oleh Nabi Natan, ia berkata, "Aku sudah berdosa kepada Tuhan" (ay. 13). Dan Daud sungguh-sungguh menyesal dengan kejahatan yang telah dilakukannya itu. Penyesalan ini dituangkan dalam lagu yang ditulisnya dalam Mazmur 51. Kalau Anda membaca dengan seksama Mazmur ini maka Anda akan melihat kesungguhan hati Daud untuk bertobat dan kerinduannya untuk diampuni oleh Allah. Karena pertobatannya sungguh-sungguh, Daud tidak pernah lagi mengulangi kesalahannya itu. Beda dengan orang Kristen zaman sekarang. Kalau orang Kristen zaman sekarang suka bertobat, tetapi juga suka mengulangi lagi!


Waspadailah Godaan Seksual
Secara umum skandal Batsyebagate mengingatkan kita tentang bahaya dosa dan akibatnya. Kita percaya bahwa dosa sepekat apapun dapat dijadikan putih oleh Allah. Tetapi ingat, dosa akan membawa akibat buruk. Dosa akan mendatangkan malapetaka. Dan secara khusus Anda diingatkan tentang bahaya dosa seksual. Kalau mau jujur Anda pasti mau mengakui atau setidak-tidaknya nyaris jatuh dalam skandal-skandal "gate" lainnya. Banyak para pemimpin (termasuk orang Kristen) yang menggunakan kedudukannya untuk menekan orang lain, seperti Daud yang menggunakan otoritasnya untuk memberikan titah kepada Batsyeba menemaninya tidur. Anda berdosa besar kalau Anda juga menggunakan kedudukan untuk memerintahkan sekretaris Anda menemani Anda rapat di luar kota, padahal Anda mempunyai maksud licik untuk memperdayainya. Bukannya saya anti dengan sistem kerja seperti ini, tetapi ada etika yang tidak boleh dilanggar.
Kalau Anda seorang wanita yang selalu menghadapi godaan / pelecehan seksual, jauhilah. Bertindaklah dengan tegas meskipun ia adalah pimpinan Anda. Kalau seandainya Anda akhirnya terlibat dalam sebuah skandal, meskipun itu merupakan hasil dari tekanan atasan, tetap Anda harus mempertanggungjawabkan perbuatan Anda. Kasus Anda tidak sama dengan Batsyeba, sebab Anda tidak hidup pada zaman dahulu ? zaman kerajaan. Anda hidup pada zaman di mana Anda harus bertindak tanpa kompromi.
Banyak rumah tangga Kristen yang goyah bahkan hancur gara-gara adanya pihak ketiga dalam perkawinan mereka. Itu menandakan bagaimana kita lemah dalam hal godaan seksual! Awalnya dimulai dari iseng dan coba-coba, akhirnya jadi keterusan. Ketidakdisiplinan kita menjaga pancaindera kita juga merupakan awal dari kejatuhan itu. Anda ingat dengan nasihat orang bijak yang berkata: bunuhlah selagi ular itu kecil, sebab kalau sudah dewasa, ia akan memangsa Anda. Tepatlah bila kalimat ini diterapkan dalam hidup kita. Selagi kita mulai digoda, lari dan hindarilah! Jangan biarkan saja sambil berkata, "Ah nggak apa-apa!"
Allah tidak ingin ada skandal-skandal dalam hidup kita. Allah mau kita bersih dari skandal supaya kita dapat menjadi mempelai yang suci di hadapan-Nya. Dan kalau toh Anda terlanjur terlibat, ambillah keputusan untuk bertobat dan meminta ampun kepada Allah. Ia akan menyucikan Anda lagi. Ia akan memulihkan Anda lagi. Bahkan rumah tangga Anda yang sudah hancur berkeping-keping Allah sanggup memperbaikinya lagi. Amin!(© salib.net)

Content received from: salib.net - Mewartakan Salib dari Golgota, http://www.salib.net