STRUKTUR KELUARGA
Tuesday, July 06, 2004 (15:51:47)

Posted by SALIB

"....Setiap laki-laki harus menjadi kepala dalam rumah tangganya...." (Ester 1:22).

"Aku hanya mau nuruti perkataan suami kalau aku mau," kata seorang wanita muda mengawali pembicaraannya dengan rekan-rekan sekantornya. "Kalau aku sih, suamiku jarang menyuruh aku, soalnya aku memang jarang mau diperintah," timpal yang lainnya. "Pokoknya, kedudukan kita sama deh dengan suami. Kalau dia presiden, kita juga presiden. Ini kan zaman emansipasi," kata yang lainnya lagi menutup diskusi kecil yang yang tidak ada moderatornya itu.

Pembicaraan di atas adalah bagian kecil dari obrolan-obrolan kaum ibu. Dengan semakin berkembangnya zaman, pola pikir wanita semakin berkembang. Wanita tidak lagi identik dengan "dapur". Kalau zaman dahulu, ada pepatah bilang: Sepandai-pandainya wanita, toh akhirnya di dapur juga tempatnya. Zaman sekarang sudah tidak lagi. Wanita sudah menduduki jabatan-jabatan penting di perusahaan-perusahaan dan instansi-instansi vital lainnya. Mereka memiliki banyak anak buah kaum Adam yang sewaktu-waktu siap menjalankan perintahnya.

Naluri "manager" para wanita karir kadang terbawa hingga ke rumah tangga. Mereka lupa bahwa rumah tangga bukanlah perusahaan, sehingga tidak sedikit wanita karir yang main perintah kepada suaminya. Apalagi kalau suaminya itu mempunyai kedudukan jauh di bawah isterinya di perusahaan tempat ia bekerja. Ketidakseimbangan ini tidak dapat disangkal lagi menimbulkan banyak polemik, tidak terkecuali dalam keluarga Kristen.

Firman Tuhan dengan jelas memberikan struktur yang benar pada sebuah keluarga. "Hai isteri, TUNDUKLAH kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat....Hai suami, KASIHILAH isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat....." (Ef. 5:22-25). Jelas bahwa suami adalah kepala rumah tangga. Bila suami adalah "direktur", maka isteri adalah "manager". Bila suami adalah "presiden", maka isteri adalah "menteri dalam negeri". Struktur demikian tidak boleh diubah-ubah. Mereka yang mencoba mengubahnya akan banyak menemui persoalan dalam rumah tangganya. Para isteri harus tunduk kepada suami, tanpa melihat status, pendidikan, latar belakang, dsb. Lalu bagaimanakah kalau si suami adalah orang yang belum lahir baru, belum bertobat? Apakah para isteri harus tunduk? Ya! Dengan syarat perintah suaminya tidak bertentangan dengan firman Tuhan. Bagaimanapun juga firman Tuhan adalah prioritas utama orang benar.

Bagaimana dengan para suami? Firman Tuhan memberi perintah (sekali lagi: memberi perintah!): Kasihilah isterimu sama seperti mengasihi dirimu (Ef. 5:28)! Orang normal tidak akan mau menyakiti dirinya. Suami yang normal tidak akan menyakiti isterinya, karena isterinya adalah dirinya sendiri, sebab mereka telah menjadi satu tubuh.

Kekacauan struktur otoritas dalam keluarga akan mengawali sebuah kehancuran keluarga. Allah telah memberikan struktur yang jelas bagi sebuah keluarga. Jangan mencoba-coba mengubahnya dengan alasan apapun. Sebab ciri keluarga yang harmonis - keluarga yang berkenan di hati Tuhan - adalah keluarga dengan seorang ayah sebagai kepala keluarga yang mengasihi isterinya.(© salib.net)

Keluarga ibarat negara. Tanpa ada otoritas yang jelas, niscaya kehancuran hanyalah masalah waktu.

Content received from: salib.net - Mewartakan Salib dari Golgota, http://www.salib.net