MENJADI KSATRIA DI DALAM ALLAH
Friday, May 19, 2017 (03:44:02)

Posted by admin

“Lebih bahagia mereka yang gugur karena pedang dari pada mereka yang tewas karena lapar, yang merana dan mati sebab tak ada hasil ladang” (Ratapan 4:9).

Pada tahun 1943, di India utara (Bengal) terjadi kelaparan yang menewaskan lebih dari 1,5 juta jiwa. Penyebabnya adalah komplikasi antara sejarah dan fenomena alam. Sebab semasa perang dunia ke-2, Jepang menghentikan impor beras dari Burma (Myanmar). Hal ini diperburuk dengan badai yang memporakporandakan sawah ladang tak lama kemudian.

Pemandangan yang sama-sama mengerikan terjadi di Israel saat kerajaan Babel mengepung Yerusalem. Selama kurang lebih 2 tahun penduduk Yerusalem bertahan dengan makanan yang masih tersisa di kota itu. Lama-kelamaan persediaan makanan pun habis. Akhirnya tak dapat dielakkan lagi, kelaparan yang begitu dahsyat sampai memaksa ibu-ibu memasak anak-anaknya sendiri, hanya supaya mereka bisa bertahan untuk tetap hidup (ay. 10)!

Saudara, Nabi Yeremia mengakui jika mati dalam peperangan masih lebih bahagia daripada mati karena kelaparan. Sepertinya lebih “jantan” tewas dalam kancah peperangan daripada tewas karena tidak ada makanan.

Kita berbicara tentang “kejantanan” (sifat ksatria).

Pada zamannya, Daud tidak mengenal kata pengecut. Sebab ia hidup benar dan Allah menyertainya, termasuk dalam setiap pertempuran. Dari musuh “underdog” sampai musuh “kelas berat” telah ia babat habis. Tak ada kata takut dalam dirinya selama Allah menyertainya. Tetapi pada masa Nabi Yeremia, Israel telah berubah menjadi pengecut. Bukannya tanpa alasan mereka menjadi seperti ini. Mereka pengecut karena Allah tidak menyertai mereka lagi. Mengapa Allah meninggalkan mereka? Karena bangsa Israel lebih dahulu meninggalkan Allahnya dengan beribadah kepada ilah-ilah asing.

Saudara, orang yang masih tinggal dalam dosa adalah pengecut. Mereka suka melakukan dosa dengan sembunyi-sembunyi. Tampak luar sepertinya makmur dan bahagia, tetapi sebenarnya ia berada dalam bahaya kematian, karena iblis menghalangi berkat-berkat Allah mengalir. Seperti kota yang terisolasi, demikian pula dengan orang yang masih hidup dalam dosa.

Sebaliknya, untuk menjadi ksatria di dalam Tuhan, kita harus berani mengambil risiko untuk mati bagi Kristus. Para martir adalah manusia-manusia ksatria yang berani memberitakan kebenaran Allah. Sekalipun nyawa adalah taruhannya, namun hati mereka tidak bergeming untuk tetap menyampaikan berita kasih Allah. Mereka adalah pahlawan-pahlawan kerajaan Allah.

Anda mau menjadi “jantan” di dalam Allah? Hiduplah kudus dan jadilah pemberita kebenaran. Anda takut dikucilkan? Diolok? Diejek? Disakiti? Bahkan dibunuh? Jangan takut, kata Yesus. Melainkan takutlah kepada Allah yang dapat melemparkan manusia ke neraka (Luk. 12:5).(salib.net)

Content received from: salib.net - Mewartakan Salib dari Golgota, http://www.salib.net