DISIPLIN
Friday, May 19, 2017 (03:43:53)

Posted by admin

“…… Aku akan menghajar engkau menurut hukum, tetapi Aku sama sekali tidak memandang engkau tak bersalah” (Yeremia 46:28).

Kata ‘menghajar’ berasal dari kata ‘yacar’ yang berarti menghukum, memberikan instruksi, atau mendisiplinkan. Sedangkan kamus bahasa Indonesia untuk konteks ayat ini mendifinisikannya dengan: 1. Tata tertib di sekolah, kemiliteran, dan sebagainya. 2. Kepatuhan kepada peraturan-peraturan yang telah ditetapkan. Sedangkan kata mendisiplinkan, menurut kamus yang sama, berarti menjadikan seseorang agar mematuhi peraturan (tata tertib).

Sepertinya kita tidak lepas dari kata ini sejak kita masih kecil. Ayah dan ibu kerap kali menghajar kita saat kita bandel dan tidak mematuhi perkataannya. Bahkan tidak segan-segan mereka mengunci kita di dalam WC selama berjam-jam dengan maksud mengajar supaya kita hidup dengan benar.

Saudara, Allah juga memperlakukan hal yang sama seperti orang tua duniawi kita. Bedanya, banyak di antara kita yang didisiplinkan secara tidak proporsional  menjadi korban kekejaman orang tua, pelecehan, perlakuan tidak wajar, dsb. Tapi tidak demikian halnya dengan Bapa kita di surga. Ia mendidik dan mendisiplinkan kita karena Dia mengasihi kita  supaya kita dapat mengambil bagian dalam kekudusan-Nya.

Alkitab berkata, “Dan janganlah melupakan nasihat Allah ini, yang diberikan kepadamu sebagai anak-anak-Nya: "Anak-Ku, perhatikanlah baik-baik ajaran Tuhan, dan janganlah berkecil hati kalau Ia memarahimu. Sebab Tuhan MENGHAJAR setiap orang yang dikasihi-Nya, dan Ia MENCAMBUK setiap orang yang diakui-Nya sebagai anak-Nya. Hendaklah kalian menerima CAMBUKAN dari Allah sebagai suatu HAJARAN dari seorang bapak. Sebab apakah pernah seorang anak tidak dihukum oleh bapaknya” (Ibr. 12:5-7  terj. sehari-hari)?

Bagaimana Allah menghajar kita? Saat Allah mengizinkan berbagai masalah menimpa hidup kita, itulah hajaran-Nya. Berapa kali Anda harus menerima persoalan yang seharusnya tidak perlu terjadi. Tapi karena kita “bandel” Allah mengizinkan kita melalui semuanya itu.

Saudara, adalah tujuan Allah supaya hidup kita semakin disempurnakan dan menjadi dewasa di dalam Dia. Untuk mencapai kedewasaan ini, ada suatu proses yang harus kita lalui. Seharusnya, apabila kita mendisiplinkan diri untuk tetap taat kepada-Nya, hajaran Allah tidak akan menimpa kita.

Anda ingat dengan Yunus? Mengapa ia harus “menginap” dalam perut ikan selama 3 hari 3 malam? Karena dia tidak disiplin. Untuk kembali pada jalur yang benar, Allah harus mendisiplinkan Yunus!

Apakah Anda sedang ditimpa persoalan dan masalah? Anggaplah semuanya itu sebagai proses menuju kedewasaan. Saat Allah mendidik Anda janganlah Anda mengeraskan hati. Bertobatlah dan kembalilah lagi pada jalur yang benar, supaya iblis tidak mengambil keuntungan atas hidup Anda.(salib.net)

Content received from: salib.net - Mewartakan Salib dari Golgota, http://www.salib.net