HARGA SEBUAH SENYUMAN
Friday, May 19, 2017 (03:43:04)

Posted by admin

“Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku” (Habakuk 3:17, 18).

Setiap orang mendambakan sukacita. Beberapa orang sepertinya berhasil memperolehnya dan sebagian lagi tidak. Mungkin, lebih mudah kita menjabarkan di mana sukacita tidak bisa didapatkan:

• Bukan pada ketidakpercayaan  Voltaire (1694-1778) adalah seorang kafir yang kata-katanya tajam. Ia menulis, “Aku berharap aku tidak pernah dilahirkan.”

• Bukan pada kesenangan  Lord Byron (1788-1824), yang terkenal dengan gaya hidupnya yang modern dan mempunyai hobi bersenang-senang. Ia menulis, “Ulat, kebusukan, dan kesedihan telah menjadi milikku sendiri.”

• Bukan pada uang  Jay Gould (1836-1892), seorang milyuner Amerika pada zamannya, berkata, “Aku pikir, akulah orang yang paling malang di dunia.”

• Bukan pada kedudukan dan popularitas  Lord Beaconfield (1804-1881) adalah orang yang beruntung menikmati keduanya. Tetapi ia berkata, “Masa muda adalah kesalahan; masa dewasa adalah pergumulan; masa tua adalah penyesalan.”

• Bukan pada kejayaan militer  Alexander Agung (356-323 SM), sang penakluk sebagian besar bagian bumi, suatu hari menangis di tendanya sambil berkata, “Tak ada lagi bagian dunia yang dapat kutaklukkan lagi.”
Pertanyaannya kini, di manakah orang menemukan sukacita?
Saudara, Nabi Habakuk adalah nabi yang malang. Ia hidup pada masa yang tidak menyenangkan. Di mana-mana rakyat berbuat dosa. Dan ketika ia berdoa kepada Allah, jawaban yang Allah berikan kepadanya tidak sesuai dengan harapannya. Ditambah dengan situasi di mana pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun ia akan bersorak-sorak di dalam Tuhan, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkannya.

Bagaimana mungkin ia bersukacita dalam keadaan seperti ini? Apakah Habakuk tidak waras? Dengarkan, Habakuk tidaklah gila dan ia mempunyai alasan yang kuat untuk tetap bersukacita di dalam Allah. Dalam ps. 3:19 Alkitab menceritakan alasannya bersukacita  SEBAB ALLAH ADALAH KEKUATANNYA.

“Bersukacitalah senantiasa,“ kata Firman Tuhan (1 Tes. 5:16). Ini adalah ciri orang percaya, kendati ia harus berada di tengah badai kehidupan. Kalau orang bersukacita karena mendapat rumah baru, bonus THR, atau istri cantik, tanpa diperintah pun orang dunia akan melakukannya.

Wajah Anda bak monster alias mengerikan karena tidak ada sukacita? Apa sebabnya? Karena Anda lebih memandang persoalan Anda daripada kepada Allah. Cobalah tersenyum dan tertawa sambil mengingat kembali janji-janji Allah.(salib.net)

Content received from: salib.net - Mewartakan Salib dari Golgota, http://www.salib.net