REUNI KELUARGA ALLAH
Tuesday, July 06, 2004 (08:40:56)

Posted by SALIB

"Efraim, ayah mereka, berkabung berhari-hari lamanya, sehingga saudara-saudaranya datang untuk menghiburkan dia" (1 Tawarikh 7:22)

Efraim adalah anak kedua dari Yusuf dengan istrinya, Asnat. Nama Efraim sering disebut-sebut dalam kitab-kitab Perjanjian Lama, sebab Efraim merupakan salah satu suku Israel. Meskipun Efraim dengan saudaranya, Manasye, adalah cucu Israel (Yakub), tetapi karena Yusuf, ayahnya, mendapatkan hak kesulungan menggantikan Ruben (1 Taw. 5:1), maka Yusuf berhak mendapatkan hak ganda. Hak ganda itu adalah penurunan dua suku dari Yusuf, suku Efraim dan suku Manasye (Yos. 14:4).

Ketika terjadi perampokan yang disertai dengan pembunuhan anak-anak Efraim oleh orang-orang Gat, Efraim sangat berdukacita dan ia berkabung berhari-hari lamanya. Siapakah diantara manusia yang tidak berdukacita ditinggal mati oleh orang yang dikasihinya?

Kelahiran dan kematian adalah proses alamiah suatu kehidupan. Demikian halnya dengan pertemuan dan perpisahan yang merupakan peristiwa-peristiwa yang lazim dalam kehidupan manusia. Tetapi sebagai orang percaya, bagaimanakah sikap kita terhadap kematian dan perpisahan dari orang-orang di sekitar kita yang kita cintai?

Adanya suatu kehidupan atau alam lain bukanlah monopoli kepercayaan orang Kristen. Banyak bangsa/suku yang mempercayai bahwa ada suatu alam lain setelah kematian. Seperti orang Yunani yang menaruh mata uang perak di dekat mayat sebagai ongkos perjalanan pada Charon. Orang Mesir membekali mayat dengan peta perjalanan menuju orang mati dan gulungan papirus (lembaran kayu yang dapat ditulisi) yang berisi doa. Orang Normadia menguburkan kuda dan pakaian perang bagi pahlawan yang mati. Demikian pula orang Cina membakar rumah-rumahan kertas dan uang-uang kertas, dengan harapan rumah-rumahan dan uang-uangan itu menjadi nyata dalam kehidupan lain.

Kita memiliki jaminan yang pasti akan adanya suatu kehidupan yang indah setelah kematian. Yesus berkata, "Di rumah Bapaku banyak TEMPAT TINGGAL....Sebab Aku pergi ke situ untuk MENYEDIAKAN TEMPAT bagimu" (Yoh. 14:2). Disinilah tempat tinggal bagi mereka yang meninggal dalam Tuhan. Bahkan Alkitab menceritakan suatu pertemuan yang penuh sukacita antar orang percaya (1 Tes. 4:17). Bayangkan, saat itu kita akan bercakap-cakap dengan Musa, Daniel, Petrus, Charles Finney, Smith Wigglesworth, dan orang-orang kudus lainnya.

Apakah sekarang ini kita menghadapi kesedihan yang sama dengan Efraim? Kematian orang yang kita cintai memang menyedihkan, tetapi janganlah kita bersikap sama dengan orang-orang dunia yang tidak memiliki pengharapan. Janganlah dukacita itu membelenggu kita, mengikat kita, dan memperhamba kita, sehingga kita tidak dapat hidup dengan bebas. Pandanglah ke depan dan lihatlah, masih banyak pekerjaan yang harus dikerjakan untuk kemuliaan Bapa di sorga. Percayalah bahwa akan ada reuni yang penuh sukacita di antara orang percaya pada saat hari akhir tiba!(©salib.net)

Bagi orang percaya, kematian adalah awal dari kebahagiaan yang tiada tara.

Content received from: salib.net - Mewartakan Salib dari Golgota, http://www.salib.net