KASIH KARUNIA ALLAH
Tuesday, May 17, 2016 (07:58:37)

Posted by admin

“Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima” (2 Korintus 6:1).

Kita sering berbicara tentang kasih karunia Allah. Tetapi apa sebenarnya “kasih karunia” itu? Kalau dijabarkan secara teologis memang akan menyita beratus-ratus, bahkan beribu-ribu halaman. Tidak semua orang bisa memahaminya dengan mudah kalau demikian. Tetapi saya senang dengan penjabaran seorang hamba Tuhan yang mendefinisikan “kasih karunia” dengan kalimat sederhana: anugerah yang diberikan kepada seseorang yang semestinya orang itu tidak layak menerimanya.

Kalau ada seorang penjahat yang menyimpan 10 kg daun ganja kering dan dijatuhi hukuman mati, namun mendapat grasi atau pengampunan dari presiden, itu adalah kasih karunia. Kalau ada juga seorang anak jalanan yang diadopsi oleh seorang menteri, itu adalah kasih karunia. Dan kalau Anda, orang berdosa yang sudah melukai hati Allah, namun diampuni oleh Allah, bahkan diangkat menjadi anak-Nya dan mewarisi harta surgawi serta mendudukkan Anda bersama-sama dengan Kristus, itu adalah kasih karunia yang luar biasa! Tidak ada kasih karunia yang sebesar ini.

Jujurlah bahwa sampai saat ini Anda tidak sadar akan besarnya kasih karunia Allah itu. Anda berlaku sembrono dalam hidup ini. Tidak serius menjadi pelaku firman Tuhan. Asal-asalan beribadah ke gereja. Dan enggan bersekutu dengan Tuhan. Dan yang lebih parah lagi, Anda main “petak umpet” dengan Tuhan. Adam juga pernah mencoba bermain “petak umpet” dengan Tuhan, dengan menyembunyikan diri di antara pohon-pohonan dalam taman (Kej. 3:8). Mengapa? Sebab Adam baru saja berbuat dosa! Kalau Anda jatuh bangun dalam dosa, agaknya Anda akan melakukan hal yang sama dengan Adam. Anda sungguh menjadi orang yang menyia-nyiakan kasih karunia Allah.

Bagaimana caranya supaya kita tidak membuat sia-sia kasih karunia Allah? Teladani Paulus, “Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku TIDAK SIA-SIA. Sebaliknya, aku telah BEKERJA LEBIH KERAS dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku” (1 Kor. 15:10). Orang yang bekerja giat bagi Allah dan amat serius dalam menyelesaikan panggilannya adalah orang yang tidak menyepelekan kasih karunia Allah.

Saudara, kita hidup karena kasih karunia Allah. Kita bernafas karena kasih karunia Allah. Kita menjadi anak Allah karena kasih karunia. Lantas, apakah kita akan menyia-nyiakan kasih karunia Allah?(salib.net)

Content received from: salib.net - Mewartakan Salib dari Golgota, http://www.salib.net