Selamat Jalan Pdt. Petrus Agung
Wednesday, March 16, 2016 (03:08:59)

Posted by admin

Meninggalnya Pdt. Petrus Agung yang menyebar melalui BBM pada Senin (14 Maret 2016), mengagetkan banyak orang termasuk saya. Sebab tidak ada berita beliau sakit atau ada perawatan medis sebelumnya, namun tiba-tiba berangkat pulang ke surga. Saya bisa merasakan kebingungan, kesedihan, kekagetan, dan berbagai gejolak emosi lainnya yang dialami oleh terutama oleh keluarga dan jemaat JKI Semarang. Sebab mereka tidak dapat menerima fakta ini. Saya juga ikut memaklumi kalau sempat diadakan doa-doa untuk membangkitkan beliau. Tidak semua orang bisa menerima hal ini. Kalau saya misalnya sebagai orang yang sangat dekat dengan beliau, kemungkinan besar saja juga ikut ambil bagian dalam doa kebangkitan itu.

Meninggalnya Pdt. Petrus Agung hampir bersamaan dengan meninggalnya Pdt. Chris Marantika (beliau meninggal pada 13 Maret 2016 pukul 02:00 WIB di Yogyakarta). Dua pendeta yang menurut saya sangat berpengaruh ini telah berangkat terlebih dahulu mendahului kita.

Pertanyaannya adalah, mengapa Tuhan mengambil orang-orang terbaik-Nya? Pertimbangan apakah yang melandasi tindakan itu? Saya mencoba melakukan berbagai analisa logika namun saya belum juga mendapatkan jawaban atau alasan yang tepat mengapa itu harus terjadi. Namun saya sadar bahwa kehendak Tuhan adalah yang terbaik. Tuhan adalah Tuhan yang berdaulat. Saya memuji Tuhan karena apa yang dilakukan-Nya merupakan bukti bahwa kedaulatan-Nya adalah mutlak! Dia tidak dapat disetir dengan kondisi apapun. Jangan pernah kita mencampuri urusan-Nya yang menjadi wilayah kedaulatan-Nya.

Sayang, terlepas dari segala kontroversinya, masih banyak orang Kristen yang memandang sinis hamba Tuhan ini. Hamba Tuhan tetaplah hamba Tuhan. Jangan mengatai-ngatai hamba-Nya. Daud juga tidak pernah mendahului tindakan Tuhan terhadap Saul. Dia tidak pernah mau memberontak dan membunuh Saul, meskipun Tuhan telah memilihnya menganggantikan Saul. Dia paham akan waktu Tuhan dan kedaulatan Tuhan atas hidupnya dan hidup Saul. Bukankah kita juga harus demikian? Siapakah kita ini sehingga berani menghakimi (baca: mengatai) hamba Tuhan?

Sampai saya menuliskan tulisan ini, saya masih merasa sedih (secara manusiawi). Khotbah-khotbah beliau menginspirasi saya. Kehidupanya banyak memberikan ide kepada saya. Melalui tulisan ini saya hanya mau menyampaikan: Terima kasih Bapak Petrus Agung… selamat menikmati janji-janji-Nya di surga yang kekal…"

Content received from: salib.net - Mewartakan Salib dari Golgota, http://www.salib.net