NYAMANNYA TINGGAL DI RUMAH
Tuesday, February 23, 2016 (02:43:01)

Posted by admin

“Jawab-Nya kepada mereka: "Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku” (Lukas 2:49).

Pernahkah Anda berkunjung pada salah satu famili dan Anda menginap di sana? Meskipun tinggal di rumah mewah, namun Anda pasti lebih senang tinggal di rumah sendiri, meskipun sederhana. Benarlah perkataan ini: senyaman-nyamannya tinggal di rumah orang lain masih jauh lebih nyaman tinggal di rumah sendiri.

Saudara, Allah mempunyai tempat tinggal. Baiklah, orang dunia tertawa karena bagaimana mungkin Allah yang Maha-Besar tinggal dalam sebuah rumah. Benar, Alkitab sendiri berkata, “….. Langit adalah takhta-Ku dan bumi adalah tumpuan kaki-Ku; rumah apakah yang akan kamu dirikan bagi-Ku, dan tempat apakah yang akan menjadi perhentian-Ku” (Yes. 66:1)?

Bila langit adalah takhta-Nya dan bumi adalah tumpuan kaki-Nya, lalu untuk apa Allah membutuhkan tempat tinggal?

Tempat tinggal merupakan sarana persekutuan. Allah memerintahkan umat-Nya mendirikan rumah bagi-Nya agar Ia dapat bersekutu dengan manusia. Allah membenci segala sesuatu yang menjauhkan Dia dari manusia. Sebab itulah Ia membenci dosa yang menjadi pemisah antara Allah dengan manusia. Tabir yang memisahkan antara ruang mahasuci dengan ruang suci merupakan bukti bahwa dosa menjadi pemisah. Tetapi setelah kematian Yesus, tangan Allah merobek tirai ini. Allah membenci tirai yang menyebabkan Ia tidak dapat bersekutu bebas dengan manusia.

Alkitab mengomentari cinta Yesus terhadap rumah-Nya, “…… Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku” (Yoh. 2:17). Yesus sangat mencintai rumahnya. Sejak kecil saja Ia betah tinggal berlama-lama dalam rumah Bapa-Nya.

Marilah kita menyadari bahwa kerinduan Allah begitu besar untuk bersekutu dengan manusia. Gereja adalah rumah Allah. Bukan bangunannya tetapi umat Allah yang beribadah di dalamnya. Dan Allah rindu untuk bersekutu dengan umat-Nya.

Sebagaimana dalam Bait Allah dalam Perjanjian Baru di mana sekinah Allah selalu hadir, begitu juga dengan kemuliaan Allah yang selalu hadir dalam ibadah kita. Gereja yang panas dengan api Roh Kudus akan menikmati persekutuan yang indah dalam rumah Tuhan.

Tidak ada makhluk yang paling bahagia kecuali manusia, sebab ia dapat bersekutu dengan Allah Maha-Kuasa. Baiklah kita setiap hari menikmati persekutuan yang intim dengan Allah kita.(©salib.net)

Content received from: salib.net - Mewartakan Salib dari Golgota, http://www.salib.net