Mengapa Musa Gagal Masuk Tanah Perjanjian?
Wednesday, May 28, 2014 (07:11:24)

Posted by admin

Kejatuhan manusia di dalam dosa adalah suatu peristiwa yang paling mengerikan di sepanjang sejarah. Karena kejatuhan tersebut membuat manusia harus mengalami kutukan dosa. Kejatuhan manusia di dalam dosa terjadi tanpa memandang tingkat kerohanian, jabatan maupun panggilan yang diemban. Demikianpun dengan kejatuhan orang-orang yang Tuhan pakai secara luar biasa di dalam Alkitab. Mereka juga mengalami kejatuhan yang sangat fatal.

- Daud jatuh ketika berzinah dengan Batsyeba.
- Salomo jatuh ke dalam penyembahan berhala karena terpengaruh dengan istrinya.

Mereka jatuh ke dalam dosa karena melanggar kehendak Tuhan. Namun, kejatuhan yang lebih mengerikan adalah pada saat seseorang sepertinya sedang menjalankan kehendak Tuhan, padahal ia melawan kehendak Tuhan.

Musa jatuh ke dalam dosa, pada saat dia sedang melakukan pekerjaan Tuhan. Inilah kejatuhan fatal dari seorang hamba Tuhan di dalam Perjanjian Lama yang begitu besar dipakai oleh Tuhan. Kita melihat di bagian akhir dari kitab Ulangan pasal 34:10-12; “Seperti Musa yang dikenal TUHAN dengan berhadapan muka, tidak ada lagi nabi yang bangkit di antara orang Israel, dalam hal segala tanda dan mujizat, yang dilakukannya atas perintah TUHAN di tanah Mesir terhadap Firaun dan terhadap semua pegawainya dan seluruh negerinya, dan dalam hal segala perbuatan kekuasaan dan segala kedahsyatan yang besar yang dilakukan Musa di depan seluruh orang Israel”. Karena Musa dipakai oleh Tuhan untuk mengeluarkan bangsa Israel dari tempat yang memperbudak mereka selama 430 tahun bahkan memimpin bangsa ini selama 40 tahun. Kenapakah seorang Musa dapat jatuh ke dalam dosa? Apakah yang membuat dia harus mengalami hukuman yang mengerikan dari Tuhan, tidak diperkenankan untuk masuk ke dalam tanah perjanjian? Inilah 4 alasan yang paling mendasar mengenai kejatuhan Musa.

Pertama, kejatuhan Musa dimulai karena dia menjalankan kehendak Tuhan secara wrong direction (ayat 2-5). Ini alasan pertama mengapa Musa jatuh. Musa mengalami suatu tekanan yang besar dari bangsa Israel. Ketika tiba di padang gurun, tidak ada air yang digunakan untuk perbekalan bagi bangsa Israel. Maka Israel mempertanyakan kredibilitas kepemimpinan Musa, Bil 20:5; “Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membawa kami ke tempat celaka ini, yang bukan tempat menabur, tanpa pohon ara, anggur dan delima, bahkan air minum pun tidak ada?”. Ketika kita melihat, di bagian pertama kepada siapakah Musa berespon ketika dia diminta harus memberikan air kepada bangsa Israel? Musa tidak melakukan apa yang seharusnya dia lakukan sebagai seorang pemimpin. Wrong direction, yaitu Musa yang seharusnya fokus untuk direct kepada kehendak Tuhan melalui tangannya sendiri dia mengambil tongkat batu untuk mengeluarkan air. Tetapi ternyata yang dilakukan oleh Musa adalah ia digerakkan oleh suatu tekanan dari bangsa Israel karena suatu kritik keras kepada Musa selaku pemimpin yang gagal, pemimpin yang tidak berhasil. Musa tidak membawa Israel untuk hidup terpelihara dan dikenyangkan seperti di Mesir, tetapi sebaliknya, air saja mereka tidak ada.

Ketika Musa bergeser, dia melihat betapa mengganggunya orang-orang Israel bagi dia. Sehingga di ayat 10, Musa mengatakan “Hai orang-orang durhaka.” Hal ini menunjukkan Musa mengikuti perintah Tuhan untuk memberi air atas dasar apa? Musa taat bukan kepada kehendak Tuhan, tapi taat dan berespon kepada kehendak dan tekanan orang-orang yang berada di bawahnya yaitu orang-orang Israel. Bil 14:2 ini menunjukkan hal yang sama awal mula kebinasaan Israel karena bersungut-sungut di hadapan Tuhan, sehingga mereka harus mati di padang gurun kecuali Yosua dan Kaleb. Bila kita perhatikan, maka pasal ini adalah pasal yang mirip dengan pasal yang kita baca. Bil 14, tidak menyatakan Musa yang jatuh, tetapi orang Israel yang jatuh dan akhirnya dihukum oleh Tuhan dengan hukuman mati. Tetapi Tuhan menguji hamba-Nya di tempat yang lain. Ketahanan Musa menghadapi Israel diuji Tuhan dalam pasal 20, dan akhirnya Musa gagal. Karena Musa melihat tekanan dan pergumulan dari bangsa Israel yang begitu kuat. Kenapa bangsa ini tidak peka, dan tidak mengerti juga kalau Tuhan adalah Tuhan yang sudah memelihara hidup mereka. Ketika kita melihat respon Musa dalam bagian ini merupakan respon karena desakan kepada dirinya adalah hal yang sangat menggangu. Sehingga pada saat dia taat untuk memberikan air kepada bangsa Israel, itu bukan sebuah ketaatan kepada kehendak Tuhan. Tetapi ketaatan kepada desakan manusia.

Wrong Direction adalah awal mula kejatuhan Musa. Dan juga bisa menjadi awal mula dari kejatuhan setiap orang yang mengaku percaya kepada Kristus. Ketika kita melihat diri kita adalah seorang yang cukup rohani. Adalah orang yang memiliki persekutuan dengan Tuhan, atau orang yang mempunyai cukup keaktifan dalam melayani di gereja. Ketika Tuhan menguji kita dengan ujian yang sama berkali-kali, seberapa besar kita dapat bertahan? Kita juga bisa jatuh seperti Musa bahkan dapat lebih parah. Ketika Tuhan melihat dan menguji sampai di mana ketahanan Musa dalam menghadapi bangsa Israel, di sinilah Musa gagal dan jatuh. Karena Musa berespon kepada kesulitan dia sebagai seorang pemimpin dari bangsa yang bebal, bukan pada kehendak Tuhan di belakang kesulitan tersebut. Ketika Tuhan mengijinkan hidup kita mengalami suatu pergumulan yang berat dan menjadi tekanan di dalam hidup kita. Pertanyaannya adalah apakah kita berespon kepada tekanan? Atau kita berespon kepada kehendak Tuhan di belakang tekanan yang kita alami?

Ketika satu orang mengkritik kita, bagaimana respon kita? Kenapa kita langsung meledak dan tidak mencari apa yang menjadi kehendak Tuhan di belakang kritik tersebut? Ketika satu pergumulan hidup yang Tuhan ijinkan terjadi dalam kehidupan kita. Kenapa kita langsung berkata “Apa salah saya Tuhan?” Ini merupakan suatu kerohanian yang rendah ketika kita berhadapan dengan kesulitan lalu hanya dapat berespon terhadap kesulitan. Melihat pergumulan berespon kepada pergumulan. Melihat orang lain yang mengkritik kita dan berespon dengan arah sebaliknya. Di belakang setiap kritik orang kepada kita, kenapa kita tidak berpikir, Tuhan mau saya belajar apa? Di belakang setiap kesulitan hidup kita yang mungkin tidak dapat dimengerti oleh orang lain, mengapa kita buta untuk melihat apa yang menjadi rencana Tuhan atas hidup kita? Ketika setiap hal yang buruk terjadi dalam kehidupan kita, itu adalah suatu ujian bagi kita. Untuk kita melihat kepada siapakah kita berespon, kepada kesulitan, kepada pergumulan hidup kita? Kepada masukan orang lain yang menyebalkan? Atau apakah dibelakang semua itu, ada kehendak Tuhan yang harus kita cari? Inilah kegagalan pertama Musa dalam pasal ini. Dia mulai berespon kepada bangsa Israel itu sendiri, bukan kepada kehendak Tuhan.

Kegagalan Musa yang kedua adalah menjalankan kehendak Tuhan dengan wrong emotion (ayat 7,8 & 10). Ini merupakan 2 ayat yang kontras. Ayat ini menyiratkan bagaimana emosi Tuhan dalam menghadapi bangsa Israel. Tuhan sama sekali tidak marah, untuk memberikan apa yang dibutuhkan oleh bangsa Israel. Tuhan menyuruh Musa untuk mengambil tongkat dan berkata kepada gunung batu untuk mengeluarkan airnya. Tetapi apa yang dilakukan oleh Musa? Pada saat Tuhan sama sekali tidak marah. Dia marah (ayat 10) merupakan respon emosi Musa. Ketika Musa adalah pemimpin bangsa Israel yang seharusnya berdiri mewakili emosi Tuhan, tetapi di bagian ini dia gagal. Dia tidak mewakili emosi Tuhan, melainkan emosi dirinya sendiri. Musa sudah tidak tahan untuk menghadapi bangsa yang tegar-tengkuk. Sehingga pada saat Tuhan sama sekali tidak marah, sebaliknya mau memberikan kebutuhan yang diminta oleh Israel, Musa begitu marahnya sampai mengucapkan kata-kata yang begitu kasar yang sama sekali tidak diucapkan oleh Tuhan. Ketika seorang hamba Tuhan yang begitu besar berdiri di hadapan Allah dan umat Tuhan tidak mewakili emosi Tuhan. Namun mempresentasikan emosinya secara egois, maka ini adalah suatu dosa yang keji. Ketika kita mengalami suatu tekanan yang membuat emosi kita tidak stabil, maka sungguhkah kita sedang mengekspresikan emosi di mana kita membela kehormatan Tuhan yang terganggu, bukan kehormatan diri kita sendiri?

Ketika setiap kali kita menanggapi sesuatu dengan emosi yang tinggi, ketika kita marah kepada istri/suami, kepada anak, dan kepada orang yang sekitar kita. Maka pertanyaannya sungguhkan kita marah, karena kita tidak mau orang itu mendukacitakan hati Tuhan? Atau kita marah karena kepentingan kita secara pribadi terganggu? Emosi yang dikuduskan sebagai orang Kristen adalah bukan di tataran emosi egosentris. Ketika orang menggangu saya, saya harus meledak dan marah. Ketika orang tidak menyenangkan saya, saya harus jengkel pada orang itu. Emosi orang Kristen tidak sama dengan emosi orang Kafir. Orang Kristen, ketika marah, adalah marah yang mewakili kemarahan Tuhan, dan ketika dia sedih juga mewakili kesedihan Tuhan. Demikian juga pada saat dia senang karena ia menyenangkan hati Tuhan. Seorang Kristen sejati yang emosinya dikuduskan adalah menyenangi apa yang Tuhan senangi dan membenci apa yang Tuhan benci. Sehingga kita sadar setiap ekpresi amarah kita, tidak di bawah suatu tekanan dan keegoisan kita, tetapi karena kita sedang membela kehendak dan kehormatan Tuhan. Ini merupakan kegagalan yang kedua yang dilakukan oleh Musa. Pada saat Tuhan ingin dia mewakili emosi Tuhan, dia tidak sama sekali mewakili Tuhan, tetapi mewakili emosinya sendiri.

Kegagalan Musa yang ketiga adalah menjalankan kehendak Tuhan dengan wrong position (ayat 10). Satu-satunya kalimat di ayat ini mewakili respon Musa secara keseluruhan. Kalimat ini mengandung kekayaan doktrin yang mempresentasikan kerohanian Musa. Ayat ini menunjukkan Wrong Position yang dilakukan oleh Musa. Kalimat yang diucapkan oleh Musa; “Apakah kami harus mengeluarkan air bagimu, dari bukit batu ini?” Ini merupakan kalimat yang seharusnya diucapkan oleh Tuhan, dan bukan oleh Musa. Musa dalam hal ini mengambil alih posisi yang seharusnya ditempati oleh Tuhan. Posisi hamba Tuhan adalah posisi hamba Tuhan, dan bukan posisi sebagai Tuhan. Ketika dia mengambil alih tempat yang seharusnya Tuhan tempati dan mengucapkan kalimat yang seharusnya keluar dari mulut Tuhan. Maka ini adalah representasi dari Musa yang tidak melihat dirinya sebagai hamba Tuhan tetapi sebagai sebagai Tuhan yang berhak menentukan terkabul-tidaknya permintaan Israel.

Kita melihat betapa mengerikan kejatuhan Musa. Dia melanggar kekudusan Tuhan, karena dia mengambil suatu posisi yang seharusnya merupakan posisi Tuhan. Tuhan sendiri yang rela memberikan air kepada Israel tidak pernah mengeluarkan kalimat ini. Ketika orang Israel meminta air, Tuhan tidak mengeluarkan kalimat, “Apakah Aku harus mengeluarkan air bagimu?” Sebaliknya Tuhan memberikan air. Wrong Position, ketika kita tidak mengetahui posisi kita masing-masing di hadapan Tuhan. Dan ketika kita berhak untuk menghakimi orang lain serta menganggap diri kita lebih baik daripada orang lain. Maka kita secara tidak sadar, kita sedang mengambil suatu posisi di mana sebenarnya itu merupakan hak Tuhan. Bila kita melihat diri kita sama hancurnya, sama jahatnya dengan orang lain. Sehingga sewaktu kita mengoreksi orang lain, kita tidak menduduki posisi penghakiman yang seharusnya Tuhan lakukan. Tapi kita melihat sewaktu mengoreksi orang lain merupakan suatu spirit yang membangun, bukan untuk menghakimi, bukan juga untuk melihat diri kita lebih daripada orang lain. Karena kita adalah orang-orang yang diciptakan sama mulia dan sama terhormat di hadapan Tuhan tetapi sudah tercemar oleh dosa.

Kegagalan Musa yang keempat adalah menjalankan kehendak Tuhan dengan wrong obedience (ayat 11). Di dalam perintah Tuhan untuk memberikan air kepada bangsa yang sudah haus dan kepada bangsa yang bersungut-sungut, kepada bangsa yang sudah menyebalkan. Musa bukannya tidak taat. Tetapi pada ayat 9 mengkonfirmasikan, “Lalu Musa mengambil tongkat itu seperti yang diperintahkan Tuhan kepadanya”. Alkitab menyatakan bahwa Musa mengikuti seperti yang Tuhan perintahkan kepadanya. Tapi ketaatan Musa adalah ketaatan yang salah. Tuhan hanya menyuruh dia untuk mengangkat tongkat dan berkata kepada gunung batu. Tetapi Musa memukul gunung batu itu 2 kali. Dan hasilnya airnya keluar, dan bangsa Israel minum, tapi dalam ketaatan yang salah. Ketaatan yang salah bukan di dalam suatu bagian, ketika Tuhan menuntut kita full, kita hanya mengerjakan sebagian. Tapi juga ketika kita mentaati Tuhan melampaui apa yang Tuhan ingin kita taati, itu merupakan suatu ketaatan yang salah dan fatal. Ini dilakukan oleh Musa sebagai suatu ekpresi kemarahan yang luar biasa kepada bangsa yang durhaka. Dan di hadapan Tuhan itu merupakan suatu dosa yang serius. Tuhan menginginkan kita taat tepat seperti yang Tuhan inginkan, bukan taat sebagian dan melampaui apa yang Tuhan ingin kita kerjakan. Setiap Firman yang kita dengar, kita baca, sungguhkah ada kerinduan dalam hati kita untuk taat seperti yang Firman Tuhan katakan. Bukan ketaatan yang separuh, atau jauh dari apa yang seharusnya kita lakukan. Satu ketaatan yang salah dari Musa inilah yang membuat dia tidak diperkenankan masuk ke dalam tanah kanaan.

Di dalam 4 kegagalan Musa di dalam menjalankan kehendak Tuhan, Tuhan sendiri memberikan suatu kesimpulan penilaian kepada Musa yaitu Wrong until bad evaluation (ayat 12). Begitu ironisnya, Musa yang seolah-olah taat kepada Tuhan dengan memberikan air kepada bangsa Israel untuk diminum melalui tangan dia sendiri. Ternyata evaluasi Tuhan di bagian akhir pasal ini, Tuhan mengatakan apa yang dilakukan Musa adalah satu hal yang jahat di mata Tuhan. Karena apa yang dibuat Musa menghina nama Tuhan, mencela kekudusan Tuhan. Tuhan yang ingin menunjukkan kasih pemeliharaan-Nya kepada bangsa yang sangat bebal, Musa justru melakukan hal yang tidak mempresentasikan pemeliharaan Tuhan kepada bangsa yang tidak layak. Ini adalah dosa Musa, di mana Tuhan sendiri yang mengevaluasi seluruh ketaatan dia kepada Tuhan, itu merupakan satu kegagalan.

Wrong direction, wrong emotion, wrong position, wrong obedience, itu adalah kegagalan dan kejatuhan hamba Tuhan di sepanjang sejarah Israel. Orang yang pertama dipakai oleh Tuhan dengan luar biasa selama berpuluh-puluh tahun, itu tidak menjamin pada akhirnya dapat dipakai sampai akhir hidupnya sama mulianya. Karena Tuhan selalu melihat respon, terhadap anugerah yang diberikan Tuhan kepada kita. Apakah kita masih mempunyai hati untuk menghargai kekudusan nama Tuhan, dan menghargai kehormatan Tuhan, bukan membela segala macam yang mengganggu diri kita. Musa jatuh karena kegagalannya menghargai kekudusan Tuhan di hadapan orang Israel. Maka kita ambil hikmat dari Firman Tuhan untuk mengoreksi setiap motivasi kita hidup di hadapan Tuhan, sungguhkah kita membawa nama Tuhan dipermuliakan atau dipermalukan.

Content received from: salib.net - Mewartakan Salib dari Golgota, http://www.salib.net