salib.net - Mewartakan Salib dari Golgota



· Taruh di Home Page

Welcome Anonymous

Nickname
Password

Membership:
Latest: buyjerseysdallas
New Today: 0
New Yesterday: 0
Overall: 1614

People Online:
Members: 0
Visitors: 19
Bots: 0
Staff: 0
Staff Online:

No staff members are online!
Last 10 Forum Messages

Dvd Debat Islam Vs Kristen ke 7 sudah tesedia
Last post by golgota in Agenda Kita on Sep 23, 2017 at 10:02:38

Debat Islam vs Kristen di Surabaya
Last post by golgota in Agenda Kita on Aug 28, 2017 at 14:51:17

Rencana Debat terbuka dgn Islam di Univ.Muhammadiyah Sidoard
Last post by golgota in Agenda Kita on Aug 16, 2017 at 23:25:28

Gsm Membahas : Doktrin Allah Tritunggal
Last post by golgota in Agenda Kita on May 30, 2017 at 15:16:22

Kebangkitan Yesus
Last post by golgota in Belajar Alkitab on Apr 24, 2017 at 16:17:42

Tolong minta didoakan...!
Last post by butrus8cv in Konseling on Mar 19, 2017 at 07:33:46

Seminar Apologetika di GKKK Makassar
Last post by Denny in Agenda Kita on Jan 19, 2016 at 14:25:17

Video Seminar: "HYPER GRACE" (Pdt. Yakub Tri Handoko, Th.M.)
Last post by Denny in Lainnya on Dec 27, 2015 at 09:45:33

Video Seminar: BIBIT, BEBET, BOBOT, & BIBLIKA (Pdt. YTH)
Last post by Denny in Lainnya on Dec 23, 2015 at 05:15:55

Natal 2015 - "Sebelum Abraham jadi, Yesus sudah ada"
Last post by golgota in Agenda Kita on Dec 10, 2015 at 15:34:13

We have received
12813088
page views since
April 2004

Mewartakan Salib dari Golgota

Copy and paste the text below to insert the button displayed above on your site. Thanks for your support!

Forum dan Diskusi > > Mengenai Salib.Net > > Berita/Artikel di Salib.Net > > Kita Menciptakan Milosevich- Milosevich baru?
Result

Kita Menciptakan Milosevich- Milosevich baru?
Beberapa artikel atau berita di salib.net mungkin menggelitik Anda untuk diperbincangkan lagi. Anda bisa mendiskusikannya di sini.
Post new topic   Reply to topic   Printer Friendly Page     Forum Index > > Berita/Artikel di Salib.Net
View previous topic :: View next topic  
Author Message
sarapanpagi
Newbie
Newbie


Joined: Oct 08, 2004
Posts: 36

PostPosted: Sun Oct 10, 2004 2:56 am    Post subject: Kita Menciptakan Milosevich- Milosevich baru? Reply with quote

Kita Menciptakan Milosevich- Milosevich baru?

Semua elemen masyarakat telah bicara, pejabat-pejabat telah bicara :

“Jangan ada lagi konflik agama”
“Jangan ada lagi konflik SARA!”


Tetapi kenyataannya Lagi dan Lagi!
Respons mengenai hal-hal tersebut selalu saja terlambat dan terlambat
Rupanya himbauan tersebut tidak mempan.

Saya selalu miris melihat konflik/ kerusuhan/ perang dengan latar-belakang SARA di bumi Indonesia ini. Mengapa hal itu terus menerus terjadi? Karena hukum di indonesia ini tidak mampu membendungnya. Karena masih begitu banyak kelompok “Kekuatan Lama” yang sengaja memelihara “konflik” tersebut untuk melakukan tawar-menawar yang bersifat politis dengan pemerintah legitimate dan sebagainya.

Saya miris, melihat anak-anak kecil di daerah konflik telah melihat, mengalami dan merekam keganasan atas nama SARA. Si anak Kristen melihat keluarga dan sobatnya terbunuh oleh golongan SARA lain; demikian pula si anak Islam mengalami luka hati yang sama. Dengan sendirinya anak-anak dari background SARA yang berbeda-beda ini mulai tertanam bibit-bibit kebencian sejak belia. Dan saling mengklaim bahwa orang diluar SARA-nya itu semua orang-orang biadab, mau menang sendiri, pembunuh, pemerkosa, pembinasa!

Bisa dibayangkan mungkin background pengalaman seperti inilah yang membuat Milosevich menjadi salah satu “Serbian Strongman” melakukan genocide dalam Perang Balkan. Milosevich bagi kaum militan Serbia adalah seorang pahlawan, tetapi apakah ini berlaku Kroasia?. Milosevich menjadi figur yang begitu menakutkan, sebagian banyak orang menyebutnya sebagai inkarnasi Hitler. Saya membayangkan pula apabila anak-anak tersebut tumbuh menjadi dewasa dan menjadi seorang PEMIMPIN, dia akan menjadi pemimpin yang membawa “luka-batin” masa kecil dengan membawa pula kebenciannya itu mempengaruhi policy kepemimpinanannya. Dalam tulisan-tulisan saya sebelumnya cukup sering menyoroti “dendam masa kecil”, ini sangat berbahaya jika itu dialami oleh seorang pemimpin, kala itu saya menyoroti Mao dan Hitler; dan terhadap Milosevich saya-pun mencurigai adanya background yang sama yaitu “kebencian yang tertanam sejak masa kecil”. Dan ternyata benar ada banyak catatan-catatan konflik di Balkans yang tumbuh sejak tahun 1917 saat perang dunia I berlangsung.

Konflik horisontal atau konflik komunal yang terjadi di Indonesia ini sepertinya “sengaja” dipelihara oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Ada banyak pendapat yang beredar atas tertembaknya pendeta Susianti Tinulele di dalam gereja yang dilakukan oleh orang-orang tak dikenal yang baru-baru ini terjadi di Palu, akankah isu ini menjadi indikasi bahwa Indonesia sudah tidak aman dan perlu pemerintahan meliter yang berkuasa?. Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa hal tersebut adalah indikasi dari Pemerintah yang tidak becus menangai keamanan dalam negeri dan macam-macam pendapat lain.

Namun kita harus belajar dari Negara bekas Yugoslavia yang pecah menjadi sejumlah negara baru dari pertumpahan darah. Kelompok Militan A membunuh kelompok Militan B dan C dan sebaliknya. Masing-masing kelompok menganggap kelompok lain sebagai ancaman yang membahayakan. Mereka kemudian mulai berlatih dan mempersenjatai diri. Sebaliknya, kelompok saingannya juga akan melakukan hal sama. Inilah tahap yang paling genting, yang mustahil bisa diredam begitu saja. Di sini dalam sekejap kekerasan bisa berubah menjadi pembasmian suatu kelompok dalam skala yang besar.

Bengitu banyak contoh hal-hal yang sepele-pun menjadi pemicu kerusuhan, misalnya yang pernah terjadi di Ambon: perkelahian penumpang dengan seorang kondektur angkutan kota telah menyulut “perang agama”. Sepertinya tidak masuk akal, tetapi itulah yang terjadi kekecil apapun masalahnya bisa menjadi pemicu sebuah kerusuhan!. Kejadian-kejadian yang mirip terjadi seperti diatas telah dan sedang terjadi di negara kita ini, di Maluku, di Sulawesi, dan daerah-daerah lain.

Sebenarnya bibit-bibit kebencian terhadap kelompok SARA lain adalah warisan dari Pemerintah Kolonial Belanda yang telah berhasil menanam benih-benih perpecahan awal. Celakanya sistem inipun dipelihara dengan baik oleh “Kekuatan Lama” sehingga rakyat Indonesia ini terbiasa sekali dengan pengkotak-kotakan kelompok atas dasar SARA. Perang Balkan dan sejumlah pergolakan lainnya, merupakan contoh paling pas atas kejadian-kejadian yang menimpa bangsa kita sekarang ini.

Untuk bisa terbebas dari penjajahan dan politik devide et impera (memecah-belah) warisan Kolonial Belanda dan telah terpelihara secara rapi oleh elemen-elemen Orba, tak ada cara, kecuali melawannya lewat semangat persatuan. Membuang semua kepentingan pribadi, kelompok, golongan, ras, agama, dan kedaerahan. Demikian pula dengan seluruh problem yang dihadapi bangsa kita saat ini, mulai dari persoalan ekonomi yang seolah sulit untuk pulih kembali, kondisi keamanan yang kian tercabik-cabik, psikologi massa yang sangat sensitif untuk cenderung berbuat anarkis, serta ancaman serius terpecahnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Karenanya perlu digalakkan sebuah gerakan yang punya kepedulian atas apa yang telah melanggar batas kehidupan bersama tersebut. Yaitu gerakan yang mendalami akar-akar penyebab peperangan dan kekerasan. Maka kita semua sebagai bagian dari bangsa yang sedang sakit ini, kita harus memberikan andil “kesembuhan” bagi komunitas yang terkontaminasi dengan kebencian terhadap saudara-saudaranya sendiri. Masing-masing kita membangun diri untuk tidak mau dijadikan alat dari “Kekuatan Lama” untuk senantiasa menancapkan cakarnya untuk berkuasa dan mempengaruhi Pemerintah Legitimate, dan dengan leluasa mengobrak-abrik Negara Kesatuan ini. Jangan biarkan negara ini terus-menerus akan membunuhi anak-anaknya sendiri.

Bangsa kita sekarang ini sedang kehiangan Api dan Jiwa Kebangsaan yang dicetuskan pertama kali di tahun 1908 oleh Budi Utomo, sebuah gerakan Gerakan yang dipelopori dr Wahidin dan dr Sutomo dan dilanjutkan oleh peristiwa monumental Sumpah Pemuda tahun 1928. Betapa saat itu kaum muda dari berbagai latar belakang etnis dan agama berperan aktif dalam organisasi kedaerahan seperti Jong Java, Jong Sumatra, Jong Islamieten Bond, Jong Celebes, Jong Batak Bond dan sebagainya, dengan niat tulus dan murni telah menanggalkan atribut-atribut garis primordial (agama, etnis, ras, golongan) mereka demi mencapai kemerdekaan Indonesia. Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa!. Dan puncaknya Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, yang semuanya tidak terlepas dari peran historis generasi muda. Betapa kaum muda menjadi pelopor penciptanya persatuan dan kesatuan bangsa. Namun karya monumental ini mulai terkikis oleh pemikiran/ faham-faham primordial keagamaan. Mulai dari asssesoris, atribut/simbol-simbol keagamaan, sampai ucapan salampun sudah menanggalkan konteks keindonesiaan kita.

Sekarang, kita kaum muda, hendaknya kembali menyalakan Api dan Jiwa Nasinalisme seperti itu, yang menyatukan perbedaan-perbedaan bukan sebagai suatu konflik tetapi menjadikan perbedaan-perbedaan itu sebagai kekayaan bangsa. Indonesia tanpa Maluku bukanlah Indonesia, Indonesia tanpa Budha bukanlah Indonesia dan seterusnya. Indonesia memang aslinya lahir dari sebuah keragaman yang dipersatukan oleh satu bahasa, dan kesatuan nusa menjadi satu bangsa Indonesia. Saya kagum dengan ide kesatuan yang dicanangkan di tahun 1928 itu, kelompok muda dengan semangatnya bisa mencanangkan ide brillian “satu bangsa Indonesia”, “satu bahasa Indonesia” disaat-saat bangsanya sedang terjajah. Memproklamirkan kelahiran sebuah bangsa yang tercipta oleh keragaman agama, etnis, ras, golongan. Sikap kesatuan dan persatuan seperti yang dicanangkan di tahun 1928 ini terbukti telah membangkitkan kesadaran rakyat dalam melawan kolonialisme dan imperialisme. Paradoks yang kita temui sekarang adalah di alam merdeka ini justru semangat tersebut tereliminasi oleh fanatisme, terutama fanatisme agama. Kita sekarang ini seolah-olah membiarkan diri kita sebagai elemen bangsa ini terjajah kembali.

Hal yang penting untuk kita lakukan adalah masing-masing kita turut andil dalam memberikan pengertian “kesatuan bangsa” dimulai dari kelompok kita yang terkecil dan terdekat, dimulai dari keluarga. Tolaklah segala gerakan-gerakan membenci kelompok lain, etnis lain, agama lain. Jangan mau menjadi alat “tawar-menawar” yang bersifat politis dengan menggunakan atribut-atribut agama. Hal ini sangat krusial sekali dan harus menjadi bagian dalam pendidikan. Pendidikan rumah sangat penting, kita semua harus memperjuangkan nilai-nilai luhur inti kemanusiaan manusia mulai dari awal dan dari bagian masyarakat yang terkecil yaitu dari keluarga. Didiklah anak-anak kita untuk memahami humaniora/ sosiologi-budaya dan budi pekerti, menghargai sesama walaupun mereka berbeda-beda latar belakang SARA nya.

Andai saja kaum muda ini bersatu dan kembali kepada nilai-nilai keindonesiaan, mari kita lawan kekuatan lama yang sebenarnya dilakukan oleh sekelompok orang yang itu-itu saja. Kerusuhan adalah adalah “Proyek” yang sengaja dipelihara untuk “make money” dan untuk mendapat kepentingan "politis" oleh orang lama yang itu-itu juga. Saya yakin “Kekuatan Lama” itu bisa dilawan oleh persatuan kaum muda ini, jangan mau manjadi bagian dari mereka. Jangan biarkan setiap konflik politik memakai cara-cara kekerasan, pemberontakan, penculikan, pelanggaran HAM, penjarahan dan pembantaian SARA seperti; Kerusuhan berbau SARA di Jakarta Mei 1998, Ambon, Malari, Poso, Sampit, dll, dan berbagai tindakan kekerasan yang dilakukan baik oleh oknum, massa, dan aparat negara. Mari lawan kerusuhan!, dengungkan kebanggaan sebagai Warga Negara Indonesia. Cintai negeri ini yang penuh anugerah, kaya sumberdaya alam, kaya budaya, kebinekaan dst. Lawan kekacauan dengan kebersamaan dan kasih.

Janganlah terbiasa dengan kekerasan! Jangan memberikan kesempatan anak-anak kita/ generasi mendatang berpotensi menjadi Milosevich-Milosevich baru yang menjadi pembantai sesamanya atas nama SARA!




Blessings,
Bagus Pramono
July 21, 2004
Back to top
View user's profile Visit poster's website
Display posts from previous:   
Post new topic   Reply to topic   Printer Friendly Page     Forum Index -> Berita/Artikel di Salib.Net All times are GMT + 7 Hours
Page 1 of 1


Jump to:  
You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot vote in polls in this forum
You cannot attach files in this forum
You can download files in this forum


Semua artikel, forum, dan berita di situs ini adalah tanggung jawab para pengirim.
Silakan menyadur atau meng-copy seizin kami. Jangan lupa untuk mencantumkan sumber: salib.net.
Interactive software released under GNU GPL, Code Credits, Privacy Policy
Azul theme and related images designed by Jamin - upgraded by Phoenix.