salib.net - Mewartakan Salib dari Golgota



· Taruh di Home Page

Welcome Anonymous

Nickname
Password

Membership:
Latest: buyjerseysdallas
New Today: 0
New Yesterday: 0
Overall: 1614

People Online:
Members: 0
Visitors: 44
Bots: 2
Staff: 0
Staff Online:

No staff members are online!
Last 10 Forum Messages

Dvd Debat Islam Vs Kristen ke 7 sudah tesedia
Last post by golgota in Agenda Kita on Sep 23, 2017 at 10:02:38

Debat Islam vs Kristen di Surabaya
Last post by golgota in Agenda Kita on Aug 28, 2017 at 14:51:17

Rencana Debat terbuka dgn Islam di Univ.Muhammadiyah Sidoard
Last post by golgota in Agenda Kita on Aug 16, 2017 at 23:25:28

Gsm Membahas : Doktrin Allah Tritunggal
Last post by golgota in Agenda Kita on May 30, 2017 at 15:16:22

Kebangkitan Yesus
Last post by golgota in Belajar Alkitab on Apr 24, 2017 at 16:17:42

Tolong minta didoakan...!
Last post by butrus8cv in Konseling on Mar 19, 2017 at 07:33:46

Seminar Apologetika di GKKK Makassar
Last post by Denny in Agenda Kita on Jan 19, 2016 at 14:25:17

Video Seminar: "HYPER GRACE" (Pdt. Yakub Tri Handoko, Th.M.)
Last post by Denny in Lainnya on Dec 27, 2015 at 09:45:33

Video Seminar: BIBIT, BEBET, BOBOT, & BIBLIKA (Pdt. YTH)
Last post by Denny in Lainnya on Dec 23, 2015 at 05:15:55

Natal 2015 - "Sebelum Abraham jadi, Yesus sudah ada"
Last post by golgota in Agenda Kita on Dec 10, 2015 at 15:34:13

We have received
12834196
page views since
April 2004

Mewartakan Salib dari Golgota

Copy and paste the text below to insert the button displayed above on your site. Thanks for your support!

Forum dan Diskusi > > Kekristenan > > Belajar Alkitab > > Mandat Budaya51: POSISI GEREJA DLM ERA POST-"AZAS TUNGGAL"
Result

Mandat Budaya51: POSISI GEREJA DLM ERA POST-"AZAS TUNGGAL"
Alkitab adalah buku Allah yang kadang sukar dipahami. Ajukan pertanyaan Anda mengenai firman Tuhan, sekaligus untuk semakin memperdalam Alkitab. Topik ini lebih ditujukan kepada orang Kristen yang sudah lahir baru.
Post new topic   Reply to topic   Printer Friendly Page     Forum Index > > Belajar Alkitab
View previous topic :: View next topic  
Author Message
Denny
Newbie
Newbie


Joined: Jun 24, 2006
Posts: 954
Location: -

PostPosted: Tue Apr 15, 2008 12:40 pm    Post subject: Mandat Budaya51: POSISI GEREJA DLM ERA POST-"AZAS TUNGGAL" Reply with quote

Mandat Budaya-51



POSISI GEREJA DALAM ERA POST-“AZAS TUNGGAL”

oleh: Pdt. Ir. Benyamin Fleming Intan, Ph.D.



Tahukah Anda bahwa Gereja telah "disamakan" dengan Nahdatul Ulama, Muhammadiyah, dan organisasi keagamaan lainnya? Lebih dari itu, sadarkah Anda bahwa Gereja telah "disamakan" dengan organisasi kemasyarakatan (ormas) seperti KNPI, GMKI, HMI, GAMKI, PMKRI, dll?

Timbul masalah, seperti kita ketahui bahwa ormas sewaktu-waktu dapat dibubarkan, apabila ada alasan yang kuat. Contoh yang kita saksikan belum lama bahwa ada usulan membubarkan KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia) -dengan akan dihapuskannya pada GBHN 1993- oleh karena ia dipandang tidak/kurang membawa aspirasi pemuda. Walaupun usulan tersebut ditolak, pertanyaan kita, bagaimana dengan Gereja? Mungkinkah suatu saat nanti `nasib' Gereja akan sama dengan `nasib' ormas, apabila ada alasan yang kuat untuk membubarkannya? (Mungkin Anda akan berteriak TIDAK, Gereja kan sudah "exist" sebelum republik ini ada).

Mengapa dikatakan diatas bahwa kedudukan Gereja, organisasi keagamaan lainnya dan ormas, telah "disamakan" di republik ini? Itu tidak lain disebabkan karena adanya UU No. 8/1985. Didalam operasionalnya, UU tersebut mengharuskan baik Gereja, organisasi keagamaan lainnya, maupun ormas, untuk menerima Pancasila sebagai satu-satunya azas didalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Hal demikian belum pernah terjadi sebelumnya, dan terasa aneh bagi kita. Oleh karena naskah GBHN tentang Politik, butir I(f) pada TAP MPR No.II/MPR/1983 menyatakan dengan jelas dan gamblang bahwa "azas tunggal" Pancasila hanya berlaku bagi PDI, Golkar, dan PPP. Titik. Tidak lebih dari itu. Sejarah mencatat bahwa pada tahun 1985 baik PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia), PII (Persekutuan Injili Indonesia), dan DPI (Dewan Pentakosta Indonesia), telah menerima Pancasila sebagai satu-satunya azas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Ironis? Masa ini dapat kita katakan sebagai masa "azas tunggal."


BUAH SIMALAKAMA
Bagi Gereja, sebetulnya "no problem" menerima "azas tunggal" Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Gereja meyakini dengan sungguh bahwa Pancasila merupakan satu-satunya alternatif yang kita miliki; alternatif yang mampu menerima dan menghargai kebhinekaan/kemajemukan dengan tidak membahayakan kesatuan dan persatuan bangsa. Pancasila tidak dapat ditawar-tawar maupun digugat oleh siapapun, dimanapun dan kapanpun, sepanjang republik ini ada. Kalaupun disana ada peluang mendirikan "negara Kristen," kesempatan itu harus kita tolak. Karena kita yakin bahwa Pancasila adalah "kehendak Tuhan" bagi "Indonesian" siapapun dia, tidak peduli sukunya, agamanya, rasnya dan golongannya. Ini adalah pendirian Gereja. Bahkan secara "sekular" Gereja berani menyatakan bahwa Pancasila adalah "doktrin"-nya.

Namun pada pihak lain, Gereja memperingatkan dengan tegas kepada umatnya, seperti yang dicetuskan oleh Konperensi Gereja dan Masyarakat DGI (sekarang PGI) pada tahun 1978, bahwa: JANGAN MENGKRISTENKAN PANCASILA dan JANGAN PULA MEMPANCASILAKAN IMAN KRISTEN (Rumusan ini kemudian diangkat oleh mantan Menteri Agama Alamsyah Ratuprawiranegara menjadi: Jangan Mengagamakan Pancasila dan Jangan Mempancasilakan Agama).

"Mengkristenkan Pancasila" berarti mensakralkan Pancasila. Pancasila dianggap sebagai sesuatu yang keramat, suatu wahyu dari Allah. "Mempancasilakan Iman Kristen" berarti memperalat kekristenan sebagai dasar-dasar pegangan bagi pembangunan untuk mencapai cita-cita bangsa. Dengan kata lain, "azas tunggal" Pancasila tidak berlaku bagi dasar/pengakuan Gereja sepanjang jaman dan di semua tempat seperti yang dinyatakan dalam 1 Korintus 3:11 bahwa, "Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus."

Timbul masalah begi Gereja seperti yang dialami oleh DGI/PGI. Dalam Sidang Raya-nya yang ke-10 tahun 1984 di Ambon, PGI menyatakan menerima "azas tunggal" Pancasila. Dengan demikian tata Gereja PGI terdiri dari dua pasal. Pasal yang satunya berbicara tentang Yesus Kristus sebagai dasar pengakuan Gereja (1 Korintus 3:11), sedangkan pasal lainnya berbicara tentang "azas tunggal" Pancasila sebagai azas organisasi. Tetapi kemudian kedua pasal tersebut tidak "direstui." Pemerintah menginginkan agar Pancasila dijadikan satu-satunya azas, "tanpa mengurangi pengertiannya sedikitpun."

Masalahnya, kalau Pancasila dijadikan "azas" Gereja dan Yesus Kristus sebagai "dasar" pengakuan Gereja, maka, dipertanyakan: "apa nedanya `dasar' dan `azas?'" Kalau sama, berarti Gereja memiliki dua dasar atau dua azas. Tetapi kalau tidak sama, berarti seolah-olah azas dan dasar terpisah. Jadi disana tidak boleh ada dasar atau azas lain selain "azas tunggal" Pancasila! Disinilah dilemanya. Gereja diperhadapkan dengan buah simalakama. Kalau makan ayah mati, tetapi kalau tidak ibu mati.

Dilema tersebut kemudian diselesaikan oleh PGI melalui cara "cerdik seperti ular, tetapi tulus seperti merpati." PGI kemudian menyatakan dengan jelas dan gamblang bahwa Pancasila merupakan satu-satunya azas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta TIDAK ADA DASAR LAIN. Sedangkan pengakuan Gereja tetap adalah Yesus Kristus, dan ayat yang dipakai untuk menyatakan pengakuan ini bukan dari 1 Korintus 3:11 yang memakai kata "dasar," melainkan dari ayat-ayat lain yang tidak menggunakan kata "dasar" secara eksplisit. Dengan demikian, masalahnya "selesai." Pada satu pihak Pemerintah "puas," dan pada pihak lain Gereja pun "aman."


MASA DEPAN GEREJA
Dilema yang dialami Gereja, apakah hal itu bukan suatu sinyal tanda bahaya bagi Gereja yang harus dipikirkan secara serius? Dengan akhirnya menyatakan Pancasila sebagai satu-satunya azas dan "tidak ada dasar lain," apakah itu tidak menunjukkan ketidakberdayaan Gereja menarik "batas yang jelas antara iman dan politik?" Bukankah pada saat itu Gereja seharusnya lebih berani mempertahankan secara tertulis bahwa Yesus Kristus sebagai "dasar" Gereja seperti dinyatakan dengan jelas dan gamblang dalam 1 Korintus 3:11?
Dengan demikian, pertanyaan utama yang harus kita ajukan adalah bagaimana keberadaan atau eksistensi Gereja selanjutnya dalam masa "azas tunggal" tersebut?
Ada pengamat berpendapat bahwa dalam masa "azas tunggal," otonomi Gereja tidak bisa lagi dibayangkan seperti sebelumnya. Ia berpendapat bahwa Gereja paling tidak akan menghadapi dua pilihan.

PILIHAN PERTAMA, Gereja akan mengalami proses "politisasi." Sebagai lembaga "rohani," Gereja telah dipolitikkan. Tidak-bisa-tidak, Gereja akan berada dalam "naungan" serta "pembinaan" Pemerintah. Implikasinya, pada satu pihak akan terjadi "penggumpalan politik" di tangan Pemerintah yang dapat "menjustifikasi segala sesuatu berdasarkan Pancasila. Dan pada pihak lain, Gereja "dipaksa" untuk berpikir dalam "spektrum Pancasila." Memang betul Gereja tidak sepenuhnya menjadi "lembaga politik," tetapi dapatkah ia menghindarkan dirinya berpikir dalam "lingkaran atau arus politik" dari Pemerintah yang sudah memiliki "policy atau interese tertentu?"

PILIHAN KEDUA, Gereja semakin memiliki "peran korektif dan profetis" sebagai "pendamping yang kritis" terhadap dunia politik. Gereja akan semakin yakin bahwa tanpa peranannya maka mustahil pembangunan bangsa akan berhasil.

Sangat disayangkan bahwa kedua pilihan tersebut bersifat "exclusive" dengan pola pendekatan "ini" atau "itu" (either-or aapproach). Artinya, Gereja "dipaksa" untuk memilih yang satu dan menolak yang lain. Apapun pilihannya, akan merupakan konsekuensi bagi dirinya, dan jangan lupa berakibat pula bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
Kalau itu pilihan kedua yang kita pilih, pertanyaan yang amat mengganggu: Bagaimanakah merealisasikannya? Siapakah yang akan amelaksanakannya? Kapankah itu terealisasi? Terbebankah Anda dan Saya?







Profil Pdt. Dr. Benyamin F. Intan :
Pdt. Ir. Benyamin Fleming Intan, M.A.T.S., M.A.R., Ph.D. lahir 2 Mei 1966. Beliau meraih gelar Insinyur (Ir.) bidang Teknik Elektro dari Universitas Kristen Petra, Surabaya ; Master of Arts in Theological Studies (M.A.T.S.) dari Reformed Theological Seminary, USA; Master of Arts in Religion (M.A.R.) dari Yale University, USA; Doctor of Philosophy (Ph.D.) dalam bidang Etika Sosial dari Boston College, USA. Beliau pernah menjadi Dosen Teknik Elektro UK Petra (1990-1994), penulis tetap Harian Surya (1991-1994), Dosen Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili Indonesia—STTRII, Jakarta (1998), Anggota Kelompok Kerja Bidang "Ideologi dan Politik," Akademi Leimena, Jakarta (1998). Saat ini beliau menjabat sebagai gembala sidang Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Pondok Indah, Jakarta ; Dekan Akademis di Institut Reformed, Jakarta ; dan co-founder dari Reformed Center for Religion and Society (bersama Pdt. Dr. Stephen Tong).

_________________
“…the true light of wisdom, sound virtue, full abundance of every good, and purity of righteousness rest in the Lord alone.”
by: Dr. John Calvin, Institutes of the Christian Religion (USA: Westminster John Knox Press, 2006), Book I, Chapter 1.
Back to top
View user's profile Visit poster's website AIM Address MSN Messenger Yahoo Messenger
Buddy
Newbie
Newbie


Joined: Jun 02, 2006
Posts: 2743
Location: The Real City of Heroes

PostPosted: Sat Apr 19, 2008 2:55 pm    Post subject: Re: Mandat Budaya51: POSISI GEREJA DLM ERA POST-"AZAS TUNGGAL" Reply with quote

Shallom,

SOLA SCRIPTURA

Umat TUHAN semakin memiliki "peran korektif dan profetis" bahkan terhadap LAI yang sudah dicampuri tangan "poli tikus" yang menyebut diri mereka sebagai wakil-wakil gereja sehingga telah mengganti nama YHWH dengan kata ALLAH dan alasannya adalah untuk kerukunan umat beragama bahkan "Persatuan Indonesia". LAI mungkin melakukan kompromi dengan cara "mengorbankan" iman kepada TUHAN yang benar demi keutuhan suatu bangsa bahkan mungkin untuk menghindari penganiayaan dari orang-orang yang anti Yahudi.

_________________
"Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada YHWH, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; ALLAH yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau illah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada YHWH!"


Last edited by Buddy on Mon Nov 22, 2010 2:15 pm; edited 1 time in total
Back to top
View user's profile Send e-mail Yahoo Messenger
izzycute
Newbie
Newbie


Joined: Apr 17, 2008
Posts: 7

PostPosted: Tue Apr 22, 2008 2:51 pm    Post subject: Re: Mandat Budaya51: POSISI GEREJA DLM ERA POST-"AZAS TUNGGAL" Reply with quote

ya ampun.... dasar pikiran sempit =_=
jangan menyamakan antara negara dengan agama.
bisa2 kyk zaman PD II tuh

Pancasila adalah dasar "NEGARA" bukan dasar "AGAMA"
Back to top
View user's profile
Buddy
Newbie
Newbie


Joined: Jun 02, 2006
Posts: 2743
Location: The Real City of Heroes

PostPosted: Tue Apr 22, 2008 11:39 pm    Post subject: Re: Mandat Budaya51: POSISI GEREJA DLM ERA POST-"AZAS TUNGGA Reply with quote

izzycute wrote:


Pancasila adalah dasar "NEGARA" bukan dasar "AGAMA"

Shallom,

SETUJUUUUUUUU

_________________
"Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada YHWH, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; ALLAH yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau illah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada YHWH!"
Back to top
View user's profile Send e-mail Yahoo Messenger
Buddy
Newbie
Newbie


Joined: Jun 02, 2006
Posts: 2743
Location: The Real City of Heroes

PostPosted: Fri Nov 19, 2010 11:33 pm    Post subject: Re: Mandat Budaya51: POSISI GEREJA DLM ERA POST-"AZAS TUNGGAL" Reply with quote

Shallom,
βλεπετε μη τις υμας εσται ο συλαγωγων δια της φιλοσοφιας και κενης απατης κατα την παραδοσιν των ανθρωπων κατα τα στοιχεια του κοσμου και ου κατα χριστον

Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus.

_________________
"Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada YHWH, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; ALLAH yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau illah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada YHWH!"
Back to top
View user's profile Send e-mail Yahoo Messenger
Display posts from previous:   
Post new topic   Reply to topic   Printer Friendly Page     Forum Index -> Belajar Alkitab All times are GMT + 7 Hours
Page 1 of 1


Jump to:  
You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot vote in polls in this forum
You cannot attach files in this forum
You can download files in this forum


Semua artikel, forum, dan berita di situs ini adalah tanggung jawab para pengirim.
Silakan menyadur atau meng-copy seizin kami. Jangan lupa untuk mencantumkan sumber: salib.net.
Interactive software released under GNU GPL, Code Credits, Privacy Policy
Azul theme and related images designed by Jamin - upgraded by Phoenix.