salib.net - Mewartakan Salib dari Golgota



· Taruh di Home Page

Welcome Anonymous

Nickname
Password

Membership:
Latest: buyjerseysdallas
New Today: 0
New Yesterday: 0
Overall: 1614

People Online:
Members: 0
Visitors: 32
Bots: 2
Staff: 0
Staff Online:

No staff members are online!
Last 10 Forum Messages

Dvd Debat Islam Vs Kristen ke 7 sudah tesedia
Last post by golgota in Agenda Kita on Sep 23, 2017 at 10:02:38

Debat Islam vs Kristen di Surabaya
Last post by golgota in Agenda Kita on Aug 28, 2017 at 14:51:17

Rencana Debat terbuka dgn Islam di Univ.Muhammadiyah Sidoard
Last post by golgota in Agenda Kita on Aug 16, 2017 at 23:25:28

Gsm Membahas : Doktrin Allah Tritunggal
Last post by golgota in Agenda Kita on May 30, 2017 at 15:16:22

Kebangkitan Yesus
Last post by golgota in Belajar Alkitab on Apr 24, 2017 at 16:17:42

Tolong minta didoakan...!
Last post by butrus8cv in Konseling on Mar 19, 2017 at 07:33:46

Seminar Apologetika di GKKK Makassar
Last post by Denny in Agenda Kita on Jan 19, 2016 at 14:25:17

Video Seminar: "HYPER GRACE" (Pdt. Yakub Tri Handoko, Th.M.)
Last post by Denny in Lainnya on Dec 27, 2015 at 09:45:33

Video Seminar: BIBIT, BEBET, BOBOT, & BIBLIKA (Pdt. YTH)
Last post by Denny in Lainnya on Dec 23, 2015 at 05:15:55

Natal 2015 - "Sebelum Abraham jadi, Yesus sudah ada"
Last post by golgota in Agenda Kita on Dec 10, 2015 at 15:34:13

We have received
12833980
page views since
April 2004

Mewartakan Salib dari Golgota

Copy and paste the text below to insert the button displayed above on your site. Thanks for your support!

Forum dan Diskusi > > Mengenai Salib.Net > > Berita/Artikel di Salib.Net > > ZONA NYAMAN GENERASI MUDA KRISTEN
Result

ZONA NYAMAN GENERASI MUDA KRISTEN
Beberapa artikel atau berita di salib.net mungkin menggelitik Anda untuk diperbincangkan lagi. Anda bisa mendiskusikannya di sini.
Post new topic   Reply to topic   Printer Friendly Page     Forum Index > > Berita/Artikel di Salib.Net
View previous topic :: View next topic  
Author Message
sarapanpagi
Newbie
Newbie


Joined: Oct 08, 2004
Posts: 36

PostPosted: Fri Oct 29, 2004 1:46 pm    Post subject: ZONA NYAMAN GENERASI MUDA KRISTEN Reply with quote

ZONA NYAMAN GENERASI MUDA KRISTEN



COMFORT ZONE :

Sudah menjadi kebiasaan dalam komunitas Kristen, kita sejak kecil diterapkan suatu pola pikir Allah kita adalah Allah yang menyediakan “El-Shaddai”. Allah kita Maha Pengasih dan Penyayang, Maha Raja, Maha Suci, Maha Sejahtera, Yang Maha Memberi Keamanan, Maha Memelihara dan seterusnya. Pokoknya jadi umat percaya itu akan senantiasa dilindungi dan mempunyai jaminan kenyamanan. Apalagi banyak sekali penegasan-penegasan di dalam Alkitab yang menyatakan, diantaranya : “Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku, Ia membaringkanku kepadang rumput hijau…. (Mazmur 23). “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus” (Filipi. 4:19). “… Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yohanes 10:10). Kemudian Ulangan 28:1-14 dan seterusnya, kita hidup dalam paradigma jaminan kenyamanan sebagai umat Tuhan. Tidak ada bahaya mengancam, karena Tuhan menjaga dan memelihara !

Orang-tua kita-pun berusaha semaksimal mungkin memberikan kenyamanan kepada anak-anaknya dalam kebutuhan sehari-hari, pendidikan yang baik, dan sebagainya. Sehingga anak-anaknya ini aman, nyaman di rumah, kebutuhan terpenuhi, urusan-urusan domestik (rumah tangga) itu pekerjaan pembantu. TV 24 jam, Play Station, sekolah mahal/elite, les dan kursus sana-sini, supir pribadi. kemudian anak-anak tersebut tumbuh menjadi manusia dewasa yang sudah terbiasa dengan kenyamanan, semua serba instant. Mulai senin sampai dengan sabtu mereka aman terlindungi & terlayani, hari minggu-pun masih menikmati kenyamanan di dalam gereja, disuguhi musik indah dengan lagu-lagu baru, sound system yang bagus, kothbah yang bagus dan menghibur yang sifatnya berkat oriented.
Aman dan nyaman dari senin sampai dengan minggu!

Prinsip KTA (kenyang, tenang, aman) diatas tidak ada salahnya memang, disamping itu semua orang-tua berusaha menyajikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Tetapi semuanya itu mempunyai potensi besar meninabobokan, kenyamanan ini menjadi suatu keadaan yang biasa saja, kenyamanan membius kemudian anak-anak kita menjadi tidak tanggap dan peduli terhadap apa yang sedang terjadi di lingkungan kita. Kita terbiasa dengan kenyamanan ini menjadi kurang sensitif terhadap gejala-gejala yang sedang terjadi di sekitar kita. Pikiran kita, pikiran jemaat secara umum, pikiran para hamba Tuhanpun hanya berorientasi kepada berkat-berkat. Akibatnya semangat ibadah yang ingin dibangun hanya menjadi retorika para hamba Tuhan dan pengurus gereja untuk memberi pembenaran kepentingan-kepentingannya untuk pembesaran kerajaan gerejanya sendiri.

Fungsi gereja bagi kaum muda bukan saja menjadi sarana pembangunan iman/ hal-hal rohani. Tetapi gereja sudah beralih fungsi sebagai sarana hiburan dan sarana gaul kaum muda. Mau nge-band bisa di gereja, pamer mobil bisa di gereja, pamer fasion mutakhir bisa digereja, mau dengar music mutakhir dengan gaya gaul MTV di gereja juga ada. Kita juga punya sederetan artis rohani yang secara profesional tidak kalah dengan artis sekuler yang biasa kita lihat di TV. Tersedia juga tabloid rohani, majalah gaul dst. Pendek kata apapun hiburan yang disajikan di lingkungan sekuler kita dapat jumpai juga di Gereja. Kaum muda adalah komunitas yang bersemangat, saya setuju gereja menyediakan sarana bagi aspirasi kaum muda. Namun bukan berarti secara radikal beranggapan daripada mereka pergi ke dunia gemerlap mending pergi ke gereja, toh music yang disajikan sama. Memang music masih merupakan "marketing tools" yang manjur untuk membawa kaum muda betah di gereja. Kita banyak jumpai banyak koser music rohani yang dikemas sedemikian rupa, dengan style dan alat-alat mutakhir menyajikan music-music techno, hip metal, rock ‘n roll dsb dengan tata panggung, lighting, multimedia yang ditata secara profesional.

Saya tidak sepenuhnya menentang kegiatan-kegiatan diatas, karena bagaimanapun kaum muda mempunyai demand dan kebutuhan akan semuanya itu. Tetapi janganlah pemenuhannya itu menanggalkan tugas kita sebagai umat Kristen sebagai garam dan terang bagi lingkungan kita yang bukan Kristen. Umat Kristen di Indonesia ini tidak tinggal dalam komunitas Kristen saja. Karena begitu kita keluar dari pintu gereja, sesaat setelah kita meninggalkan gedung tempat kita ber KKR, sesaat kita keluar dari pintu rumah kita. Kita ini berada di tengah-tengah masyarakat yang mayoritas belum mengenal Yesus. Kenyamanan-kenyamanan ini sudah begitu membuat kita tertidur dan tidak mau peduli atas gejala-gejala yang sedang marak terjadi di sekitar kita.


MANUVER MULTI DIMENSIONAL :

Ada baiknya jika kita meninjau kembali Alkitab kita yang sudah sejak semula me-warning bahwa kita sebagai umat Allah ini tinggal di tengah-tengah serigala yang sewaktu-waktu menerkam kita (Matius 10:16). Dalam Yohanes 15:18-19 Tuhan Yesus sudah mengingatkan "Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu. Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu".

Kita sebagai rakyat biasa sering mengabaikan bahwa half brother kita ini sudah lama bermain cantik di parlemen pasca lengsernya Pak Harto, sehingga kitapun kaget lha kok tiba-tiba ada Mahkamah Konstitusi yang disebut sebagai Yang Maha Kuasa. Kok tiba-tiba ada DPD? Kita dibuat bingung dengan lembaga baru ini, lalu apa donk fungsi DPRD kalau begitu? Dan banyak lagi kejutan-kejutan lainnya. Belum lama ini saya datang dalam sebuah acara di Lemhannas, saat rehat kami bicara-bicara dengan salah satu Ketua Pemuda Muhammadyah dan beberapa ketua organisasi kaum muda muslim lainnya. Saya kagum melihat mereka, mereka orang-orang muda yang sudah dikader oleh seniornya dalam wadah-wadah HMI, KAMMI dan sejenisnya. Mereka adalah orang-orang muda terdidik yang sudah dipersiapkan masuk dalam kancah politik dan pos-pos pemerintahan. Ada rasa iri dan sedih, orang-orang Kristen yang sudah lama duduk sebagai birokrat dan wakil rakyat, mengapa mereka tidak mengadakan kegiatan serupa dengan mengkader kaum mudanya. Sementara saudara-saudara muslim kita ini sudah mempunyai jaringan suksessor/ kader-kader terdidik/terlatih yang siap masuk dan menguasai birokrasi dan perpolitikan Indonesia. Suatu kenyataan bahwa hampir keseluruhan wakil rakyat dan birokrat dari kalangan Kristen adalah hanya para bapak-bapak yang sudah berumur, sangat-sangat minim sekali kader muda. Sehingga bisa diprediksi tahun 2009 nanti kemungkinan akan langka sekali politisi Kristen duduk dalam Parlemen, dan akan jarang sekali orang-orang Kristen ada dalam jajaran birokrat/ pemerintahan Indonesia.

Kita dengan mudah melihat kenyataan media-media (cetak dan TV) dikuasai mereka. Masa sekarang ini Perundangan tentang otonomi khusus seperti yang sudah diterapkan di Nangro Aceh akan terus berlanjut pada upaya-upaya "ekspansi" pelaksanaan syariat agama tertentu daerah-daerah lain. Jawa Barat, Banten, Kalimantan Selatan sudah terlihat gejalanya. Ancaman penutupan gereja-gereja, UU Sikdisnas, menyusul RUU Kesehatan, revisi KUHP, maraknya perda sektarian atas nama otonomi daerah, berkibarnya bank-bank Syariah, penguasaan mayoritas pada pos-pos penting pemerintah, dll. Manuver multidimensional ini sedang giat-giatnya dilaksanakan dengan legitimasi dari tap-tap MPR dan amandemen UUD 1945.

Dalam buku “Membendung Arus” yang merupakan disertasi Alwi Shihab dalam perolehan gelar Doktor di Universitas Temple Amerika Serikat, secara terbuka menuliskan bagaimana perjuangan dan gerakan Muhammadyah meresponi penetrasi misi Kristen di Indonesia. Buku ini baik dibaca sebab banyak memberikan masukan-masukan yang membuka cara pandang kita terhadap hal-hal sensitif yang menjadi permasalahan Islam-Kristen di Indonesia sejak semula pada masa koloni Belanda. Gerakan Muhammadyah ini bukan sekedar retorika, tetapi mereka ini sudah benar-benar melaksanakan dalam tindakan nyata. Bisa kita lihat hasilnya bukan ?. Misalnya upaya-upaya pelarangan misionaris masuk ke daerah-daerah dengan alasan anti pemurtadan. Bahkan kegiatan sosialpun dapat mereka hentikan dengan alasan anti pemurtadan. Kemudian contoh di segmen lain mereka juga sudah melakukan manuver dari segi legal dan konstitusional, dengan hadirnya Malik Fajar sebagai Menteri Pendidikan pada kabinet yang lalu maka lahirlah rancangan UU Sisdiknas, kemudian diteruskan di Parlemen dan disahkan. Manuver inipun tidak berakhir disini, pos Kementrian pendidikan dalam Kabinet Indonesia Bersatu yang baru dibentuk masih diduduki oleh kelompok mereka dengan terpilihnya Bambang Soedibyo dari PAN. Jajaran-jajaran dibawah menteri, dari Dirjend kebawah di hampir semua pos-pos birokrat-pun sudah dikuasai mereka. Terpilihnya Siti Fadhilah Supari sebagai Menteri Kesehatan, menimbulkan pertanyaan siapa gerangan ibu yang satu ini kok tiba-tiba muncul?, mengapa ibu Nafsiah Mboi harus terpental atas kehadirannya?. Ternyata Ibu Siti Fadhilah Supari ini dari kalangan Muhammadyah yang mempunyai kedekatan dengan PAN. Hal ini mau-tidak-mau membuat saya berpikir, apakah ini dalam rangka menggolkan RUU kesehatan yang sudah mulai digembar-gemborkan?. Boleh saja anda berprasangka saya terlalu paranoid, tetapi cobalah bayangkan apabila nanti ada undang-undang yang menetapkan seorang pasien harus ditangani oleh dokter yang seagama misalnya, transfusi darah harus dari yang seagama, pelayanan rumah sakit harus semukrim dan seterusnya.

UU Sisdiknas yang sudah disahkan, membuat kita terkecoh, sebelumnya umat Kristen begitu sibuk mempersoalkan pasal 12 tentang hak murid mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama. Kita sibuk terpaku pada pasal 12 saja yang kita anggap sebagai sebuah ancaman terhadap sekolah-sekolah Kristen/Katolik. Tetapi secara tragis kita kebobolan pada pasal 37 yang menghapus pelajaran Pancasila di sekolah. Suatu pertanyaan besar terhadap UU yang sudah terlanjur disahkan ini: "Mengapa mereka mengganti azas Pancasila menjadi azas ketakwaan?". Bukankah ini manuver untuk menggeser Pancasila?. Bisakah dibayangkan anak-anak kita nanti tumbuh berkembang dan tidak lagi diajari dan dididik untuk Toleransi Beragama?. Manuver ini tidak terhenti pada masalah pendidikan saja. Ibu saya anggota PKK kompleks kami tinggal mengatakan bahwa organisai ibu-ibu PKK juga sudah mengganti azas Pancasila menjadi azas ketakwaan. Satu pertanyaan besar “MENGAPA”? Mungkin ini sudah ada dalam "grand design" (rekayasa besar) mereka. Mengerikan sekali saya kawatir Indonesia betul-betul akan masuk museum menjadi tinggal sejarah.



PERGESERAN PANCASILA & UUD 1945

Saya tidak mengkultuskan Pancasila dan UUD 1945 sebagai sesuatu yang sakral yang tidak boleh diganggu gugat. Tetapi sejarah mencatat dan membuktikan bahwa bangsa Indonesia didirikan dengan azas pluralis (bineka tunggal ika) yang terkandung dalam Pancasila. Indonesia dibentuk dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila adalah negara yang menjunjung tinggi keberadaan agama-agama, suku-suku, dan golongan-golongan. UUD 1945 tidak seharusnya diamandemen, UUD 1945 pada dasarnya adalah perwujudan sikap dan moral bagi seluruh bangsa Indonesia, yang di tuangkan dengan singkat dan berwibawa. Apabila pelaksanaan P4 dinilai gagal dengan sinyalemen kejatuhan Orba dan maraknya KKN rezim Orba, ini bukan berarti pasal-pasal atau aturan UUD 1945 nya yang salah tetapi orang yang melaksanakan tidak memahami dan ingin menyelewengkan. Tanpa mengamandemen UUD 1945 kita dapat tetap menampung seluruh apa yang menjadi kekhawatiran yang telah dituangkan dalam amandemen.

Tidakkah kita sadar sudah berapa banyak kali UUD 1945 ini diamandemen?! Saya sedih melihat ini, dengan adanya amandemen itu artinya keluar UUD baru! Bangsa ini terlalu memandang murah undang-undang dasarnya, Amerika saja perlu waktu 200tahun untuk mengamandemen UUDnya. Sebagai rakyat biasa kita ini bingung apa sih dasarnya semua amandemen itu? Misalnya : Dulu "Kadaulatan ditangan rakyat dan dilaksanakan oleh MPR" jelas sekali, tetapi kita pasti akan dibuat bingung membaca amandemenya yang sudah berubah menjadi "Kedaulatan adalah ditangan rakyat dan dilaksanakan dengan aturan-aturan dari undang-undang, nah undang-undang yang dimaksud ini undang-undang yang mana?. belum lagi amandemen-amandemen lain, bagaimana kita bisa bernegara dengan baik jika Undang-undang dasarnya kacau. Dan selanjutnya bisakah dibayangkan jika pasal 29 UUD 1945 juga diamandemen?. UU Sisdiknas sudah merancukan pemahaman akan Pancasila. Bukankah ini tragis? Hanya Pancasila yang mengayomi Pluralitas Negeri ini yang memungkinkan keragaman agama, ras dan suku bersatu menjadi satu bangsa. Negeri ini didirikan dengan azas pluralisme "Bineka Tunggal Ika". Kita harus sadar dan tanggap bahwa "mereka" telah bermain "cantik" di DPR dan MPR.

Penting setiap umat Kristen untuk mempunyai wawasan kebangsaan, cara pandang secara baku terhadap eksistensi umat Kristen dan umat non muslim lainnya (Hindu & Budha) sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Kita adalah bagian integral sejarah kebangsaan Indonesia. Kalau tidak kita bakal banyak kecolongan terus, penutupan gereja-gereja semakin marak sebagai akibat dari perda-perda sektarian atas nama otonomi daerah. Dalam bulan puasa ini saja kita banyak lihat hal-hal yang terjadi akibat perda ramadhan tanpa pandang bulu yang terjadi di Banjarmasin, kasus Sang Timur di ciledug dll. Ada seorang pendeta berkata demikian “Untuk apa melakukan pendekatan dengan umat muslim, Kurang apa umat Katolik melakukan pendekatan dengan mereka, toh Sang Timur tetap diusik”. Pernyataan yang bersifat apatis ini bukan sebagai pembenaran untuk tidak melakukan apa-apa terhadap lingkungan kita.

Hari ini kita memperingati Sumpah Pemuda, marilah kita ingat tentang sumpah yang diikrarkan di tahun 1928 yang sangat sederhana dan bersifat menggelorakan semangat nasionalisme ”satu nusa, satu bangsa, satu bahasa”. Patut kita akui bahwa Sumpah Pemuda adalah sumpah bagi tegaknya persatuan Indonesia. Sumpah itu telah mampu menyatukan rakyat yang tersebar luas dan tercerai-berai akibat politik devide et impera yang dicanangkan penjajah Belanda. Kemudian lahir sebuah negara dan bangsa yang dinamakan Indonesia. Ikrar ini menjadi roh pemersatu bangsa. Tetapi apakah roh ini masih menyala? Pergeseran Pancasila akhir-akhir ini dapat kita lihat dengan jelas ketika ada sekelompok orang yang sudah membeda-bedakan orang atas agama dan kepercayaannya. Begitupun saya masih menaruh harapan dan bersyukur bahwa masih ada tokoh nasionalis yang menyuarakan pluralisme seperti yang sering dilakukan oleh Gusdur, tulisan-tulisan Umar Said cukup memberikan penghiburan bahwa masih ada orang-orang yang menjujung tinggi azas keragaman (pluralisme). Sri Sultan HB X dalam satu pertemuan menyatakan "Semua etnik dan golongan sama dan sejajar setelah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Karena itu, tidak boleh ada etnik/golongan yang mendominasi pembangunan. Sebaliknya, semuanya menjadi kekayaan bangsa ini harus bahu-membahu membangun bangsa ini lepas dari keterpurukan menuju kemakmuran rakyat,". Semoga saja masih banyak tokoh-tokoh nasional yang masih setia dan menghargai perjuangan pendiri bangsa ini dengan tetap mewujudkan Indonesia sebagai Negara Bersatu yang menghargai pluralisme.

Kita perlu mempunyai pemimpin yang tidak ambivalent, yang mempunyai kepemimpinan yang tidak takut tidak populis atas kebijakan-kebijakannya. Gerakan kaum radikal fundamentalis hanya bisa dibendung apabila nilai-nilai Pancasila ditegakkan, mereka akan hilang dengan sendirinya. Sekarang ini ada kegelisahan, karena, tidak ada nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab.


MASIHKAH MAU TIDUR?

Karena berada dalam comfort zone yang lahir dari paradigma "hidup di dunia diberkati, mati masuk surga". Kita larut tertidur dalam mimpi indah sebagai imamat rajani umat kepunyaan Allah. Tetapi bagaimana kita bisa menjadi imamat yang rajani kalau kita tidak pernah melihat dunia luar, sibuk di dalam kerajaan kita sendiri dan lengah terhadap bahaya yang mengancam. Kita tidak lagi memikirkan bagaimana caranya membuat umat Kristen ini bersatu, yang ada hampir setiap saat kita mendengar muncul gereja baru, muncul aliran baru, muncul denominasi baru. Banyak pendeta hanya sibuk bagaimana caranya menuai jemaat lain. Betapa banyak gereja membuka cabang-cabang di kota-kota besar yang notabene sudah ada banyak sekali gereja. Saya ragu jika ini dasarnya untuk melaksanakan Amanat Agung/ Pengabaran Injil. Dan yang menyedihkan masing-masing aliran mengklaim gerejanya-lah yang paling benar. Jika kita tidak membuka diri untuk tanggap atas apapun yang terjadi pada sekitar kita, maka comfort zone inipun akan berubah menjadi racun yang menjadikan kita buta terhadap isyu-isyu sosial.

Bulan April lalu Indonesia dibuat bangga oleh seorang putra dari Papua menjuarai kompetisi internasional eksperimen fisika The First Step to Nobel Price in Phisics 2004. Sebuah prestasi gemilang, Septinus George Saa (17) anak asuh dari Prof. Yohanes Surya, tetapi saudara kita itu rupanya luput dari perhatian institusi-institusi Kristen, mungkin mereka sibuk dengan urusannya atau memang tertidur sehingga keduluan dengan aktivitas Freedom Instutute milik Aburizal Bakrie. Media banyak meliput berita bahwa Freedom Institute penghargaan dan memberikan beasiswa pendidikan S1 s/d S3 doktor ke universitas manapun yang dipilihnya. Saya salut dengan ICMI dan semua elemennya ini, mereka giat, mereka bersemangat, tanggap kepada semua hal-hal yang terjadi di negara ini. Di lain pihak, apa yang kita lakukan selama ini bagi lingkungan kita? Rupanya kita ini tertidur terus. Mungkin kita juga banyak yang tidak tahu bahwa ada kemungkinan besar Markas PGI di Salemba akan dijual untuk dibangun Bank Muamalat. Satu pertanyaan lagi mengapa mereka memilih tempat itu?, "ada apa dengan kita?", hendaknya ini menjadi bahan pemikiran kita bersama.

Jangan tidur! Syarat kita untuk menjadikan negara ini maju adalah Nasionalisme! Kita hendaknya masing-masing mempersiapkan dan mencetak sumber daya manusia yang punya integritas dari lingkungan kita yang terkecil, membentuk anak-anak muda menjadi peduli bagi kemajuan bangsa ini. Satu kenyataan lagi bahwa karena generasi muda Kristen kita ini berada dalam zona nyaman, mereka jadi kurang sensitif terhadap masalah humaniora dan sosiologi budaya masyarakat sekitarnya, banyak diantara mereka tumbuk menjadi generasi cuek tidak pedulian. Kita memang golongan minoritas, tetapi ini bukan alasan bagi kita untuk enggan peduli terhadap masalah kebangsaan. Mungkin ada banyak pendapat yang beranggapan kita ini minoritas tidak mungkin kita mampu bersaing dengan mayoritas. Kita punya Tuhan!, kisah David and Goliath bisa menjadi sumber inspirasi kita untuk mulai bergerak maju membawa generasi muda mulai sadar politik dan masalah sosial yang terjadi di sekitar kita.


GERAKAN PEMUDA :

Meresponi Pemilu Presiden yang lalu, gereja kami menggelar acara semacam seminar bagaimana umat Kristen menyikapi calon-calon presiden. Didatangkanlah pembicara-pembicara dan pakar yang cukup terkenal. Tetapi ternyata pengikutnya mayoritas sudah bapak-bapak, sedikit sekali kaum muda hadir dalam acara itu, tidak ada antusiasme dari generasi muda Kristen. Sebuah pemandangan yang berbeda 180derajad ketika di IAIN digelar acara seminar serupa, kaum mudanya begitu antusias, diskusi menjadi sangat hidup, mereka lapar dan haus akan informasi dalam negeri ini dengan segala kegerakannya. Pembicara kondang Hisbut Thahrir ketika berbicara secara elegant soal solidaritas muslim atas perang Iraq dan Palestina ini begitu menarik perhatian mereka. Senior-senior mereka ini berhasil menciptakan pengetahuan politik bagi kaum mudanya adalah kebutuhan. Sementara bagi pemuda Kristen pengetahuan politik belum menjadi suatu kebutuhan.

PKS menjadi partai politik idaman kaum muda, tidak ada kyai masuk dalam partai ini, tetapi mereka ini radikal dan militan, anggotanya mayoritas kaum muda yang puritan, menguasai IT, tidak gabtek, kaum terpelajar dengan pendidikan yang bagus yang umurnya dalam kisaran 20an tahun. Banyak anak-anak muda PKS ada dalam Tabulasi penghitungan suara Pemilu kemarin. Mungkin kalangan kita pemasok komputernya, tetapi merekalah yang in-charge dalam pesta demokrasi. Masing-masing anggota berlomba-lomba mempromosikan mereka adalah partai bersih anti KKN. Dan benar, begitu manis dan elegannya pidato Hidayat Nur Wahid (HNW), penolakannya kepada kemewahan merupakan kampanye yang sangat efektif bagi partai yang pernah dipimpinnya. HNW mulai dipercaya sebagai pemimpin masa depan.

Sementara organisasi-organisasi Muslim termasuk partai politik muslim sudah bergerak jauh melangkah kedepan mempersiapkan generasi mudanya menjadi pemimpin-pemimpin negeri. Kita ini sedang tidak mempunyai jaringan seperti mereka. Organisasi/perkumpulan Kristen hanya berorientasi kepada segolongannya saja. Anak-anak muda Kristen hanya tertarik dengan Idola mereka yang kita sebut artis-artis rohani dengan lagu-lagu barunya. Lebih tertarik dan berjingkrak-jingkrak di konser rohani. Tidak mau pusing sudah ada UU sisdiknas dan akan menyusul UU kesehatan, perda-perda sektarian dan hal-hal semacam ini belum masuk dalam wacana mereka. Kenikmatan yang sifatnya rohaniah ini sudah membius mereka menjadi tidak peduli kepada lingkungannya. Saudara-saudara muslim kita ini sedang giat-giatnya mempersiapkan generasi mudanya menjadi kader-kader pemimpin bangsa masa depan, sementara pemuda Kristen kita ini hanya sibuk ber-franky-sihombingan mulu :). Zona nyaman ini mempunyai potensi menghanyutkan kita, sebaiknya ini menjadi bahan kajian bagi kita semua.


TO LEAD OR BE DELETED!

Kalau kita tidak mampu menghadirkan komunitas kita menjadi bagian penting bangsa ini, ya siap-siap saja "be deleted". 60% umat Kristen di Indonesia ini ada di Pulau Jawa, tetapi ironisnya tidak ada satu-pun DPD/Senator dari kalangan kita di Jawa. Ini tragis sekali! Tidak ada satupun politisi Kristen menduduki pos-pos penting di Parlemen. Penting setiap umat Kristen untuk mempunyai wawasan kebangsaan, cara pandang secara baku terhadap eksistensi umat Kristen sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Kita adalah bagian integral sejarah kebangsaan Indonesia. Kita adalah umat pilihan Allah! (Efesus 1:4-6), ironis sekali jika kita tidak mampu menjadi bagian penting bangsa ini. Hendaklah kita menjadi indikator teladan dan kualitas peradaban di negara kita, dengan menjadi pelaku Firman dan bukan sekadar penghafal Firman, dan yang tidak kalah penting adalah menjadi penebar berkat. Komunitas kristen kita ini harus mulai memahami dan tanggap terhadap setiap movements politik di Indonesia, "tahu politik walaupun tidak harus menjadi politisi", melek hukum walaupun tidak menjadi jaksa/pengacara, tanggap terhadap kegerakan-kegerakan politik walaupun bukan pengamat politik, paham lingkungan dan tidak bersikap eksklusif.

Politik itu kotor! ya memang, tetapi bukan berarti "Politik itu Haram", bukan berarti pula kita harus bersikap masa "kurang pintar" dan tidak mau tahu terhadap politik, justru kita harus sensitif dan cepat tanggap. Baik jika orang-orang Kristen bisa masuk ke partai-partai politik: PDI, Demokrat, Golkar, PDS dst. sehingga ada yang menyuarakan dan memperjuangkan jika ada hal-hal yang merugikan komunitas kita . Kita sudah terlalu banyak tertidur dan mulai tersisih, betapa kita sudah banyak terpinggirkan dengan adanya kegiatan-kegiatan tersebut diatas (yang paling membahayakan adalah perda sektarian atas nama otonomi daerah). Maka untuk menghadapi hal-hal tersebut kita perlu banyak Politisi Kristen duduk sebagai wakil rakyat. Dengan demikian saya berdoa dan sangat berharap dengan adanya sebagian kecil sekarang ini orang-orang Kristen duduk sebagai wakil rakyat benar-benar memperjuangkan komunitas kita, dan berjuang untuk mengembalikan keadaan akibat pembelokan-pembelokan azas Pancasila.

Politisi-politisi Kristen yang sudah terlibat dalam politik praktis, haruslah tetap dalam semangat Injil tetapi bukan atas nama gereja, melainkan atas dasar tanggung jawab dan suara hati mereka sebagai orang Kristen dan warga negara. Urusan negara adalah sekuler, biarlah yang sekuler diurusi oleh sekuler. Umat Kristen adalah bagian dari bangsa Indonesia. Dengan demikian tidak diharamkan jika mereka perpartisipasi dalam dunia politik, silahkan saja orang-orang Kristen berpolitik sebagai medan perjuangannya (menegakkan kebenaran, hukum, sossial/politik). Agar kehadiran mereka menjadi bagian dari barisan penegak demokrasi dalam masyarakat yang majemuk bersama dengan komunitas umat lain yang juga memperjuangkan nilai-nilai demokrasi dan pluralisme. Dalam hal ini mereka juga ditantang untuk menerjemahkan iman itu dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Politisi Kristen sebaiknya menyebar di berbagai partai, bukan mengelompok menjadi satu partai "Kristen" saja, kita perlu orang-orang yang bisa menyuarakan kaum Kristen dalam setiap golongan.



CERDIK SEPERTI ULAR - TULUS SEPERTI MERPATI

Saya bersyukur jika kita ini secara umum masih ada dalam “zona nyaman”, saya percaya kita akan selalu ada dalam lindungan dan pemeliharaan Tuhan. Namun dasar pemikiran ini tidak berarti kita mengabaikan keadaan sekitar. Ancaman-ancaman kebebasan beragama banyak kita jumpai walaupun banyak diantara kita yang belum merasakan dan mengalami hal ini. Kita harus ingat tugas kita yang tertulis dalam :

Matius 10:16
Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.

Dengan jelas sekali bahwa Yesus mengutus murid-muridnya masuk ke dalam “zona bahaya” untuk menjadi terangNya. Yesus tidak mengutus kita masuk ke tengah Kebun Anggur yang penuh kenikmatan, manis dan sejuk. Melainkan Yesus mengutus kita masuk ketengah dunia serigala yang ganas, yang setiap waktu bisa mengkoyak-koyak korbannya dan membinasakannya. Maka dalam ayat tersebut kita umatnya harus bisa mengimbangi siasat-siasat serigala dengan cerdik dan tulus.

Yesus menggambarkan orang Kristen seperti domba di tengah-tengah kawanan serigala. Dapatkah domba melawan serigala? Demikian pula kita dalam dunia yang begitu jahat, dapatkah orang Kristen melindungi diri?. Namun apakah ini berarti bahwa kita hanya pasrah ketika dijadikan korban? Sementara itu Alkitab menulis Merpati adalah binatang yang mudah ditipu dan tidak peka (Hosea 7:11) sementara ular dikenal sebagai binatang buas yang pandai menghindari bahaya.

Kita diperintahkan masuk ke tengah-tengah kawanan serigala (dunia yang jahat) dan tetap pada identitas kita yang tulus bagai merpati. Tuhan Yesus tidak menginginkan kita menjadi serupa dengan dunia, melainkan memerintahkan kita untuk menjadi “terang” agar orang melihat bahwa kita ini murid-muridNya, cerminan Kasih Allah.

Cerdik seperti ular, Ular mempunyai tubuh yang “flexible”, kitapun harus flexible bisa masuk ke bermacam-macam komunitas untuk menjadi saksiNya. Di Indonesia ini kita adalah kaum minoritas, maka kita harus pandai-pandai menyesuaikan diri dalam iklim tersebut. Maka orang-orang Kristen harus cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati, berarti orang-orang Kristen dalam menjalani kehidupan di dunia yang jahat ini harus pandai menghindari bahaya tanpa menjadi berbahaya bagi orang lain, dan tulus tanpa menjadi "kurang pintar".

“kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri” (1 Petrus 2:9).

Zona Nyaman yang kita nikmati selama ini hendaknya tidak melenakan kita dengan mengabaikan auman serigala-serigala yang sewaktu-waktu siap menerkam kita.





Blessings in Christ,
Bagus Pramono
October 28, 2004.
Back to top
View user's profile Visit poster's website
Display posts from previous:   
Post new topic   Reply to topic   Printer Friendly Page     Forum Index -> Berita/Artikel di Salib.Net All times are GMT + 7 Hours
Page 1 of 1


Jump to:  
You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot vote in polls in this forum
You cannot attach files in this forum
You can download files in this forum


Semua artikel, forum, dan berita di situs ini adalah tanggung jawab para pengirim.
Silakan menyadur atau meng-copy seizin kami. Jangan lupa untuk mencantumkan sumber: salib.net.
Interactive software released under GNU GPL, Code Credits, Privacy Policy
Azul theme and related images designed by Jamin - upgraded by Phoenix.